Oleh: Ridho Muldi Putra
Kabar duka itu datang pada Sabtu, 13 Juni 2026. H. Adi Bermasa, seorang jurnalis senior Sumatera Barat, berpulang ke rahmatullah.
Bagi banyak orang, beliau dikenal sebagai mantan Pemimpin Redaksi Harian Koran Padang, Redaktur Pelaksana Harian Singgalang, sekaligus penulis yang konsisten melahirkan catatan-catatan kritis tentang daerah dan kehidupan sosial masyarakat.
Namun bagi saya pribadi, beliau bukan sekadar wartawan senior. Beliau adalah guru yang pernah mengajarkan banyak hal tentang dunia jurnalistik, terutama tentang integritas. Saya mengenal beliau ketika bekerja di Harian Umum Koran Padang.
Masih teringat jelas salah satu pengalaman pertama saya bersama beliau. Saat itu saya mendapat tugas meliput kegiatan di Padang Jopang, Nagari VII Koto Talago, Kabupaten Limapuluh Kota, kampung halaman yang sangat dicintainya. Beliau datang dari Padang sebagai tamu undangan dalam sebuah kegiatan di daerah itu, sementara saya berangkat dari Payakumbuh dengan sepeda motor.
Jaraknya lumayan jauh. Namun bagi wartawan muda saat itu, mendapat tugas yang berkaitan langsung dengan pimpinan redaksi tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Saya berangkat dengan semangat karena ingin menjalankan tugas sebaik mungkin.
Setelah kegiatan selesai dan liputan tuntas, beliau menyelipkan sedikit uang untuk biaya minyak perjalanan pulang. Nilainya mungkin tidak seberapa. Namun yang paling saya ingat bukan uangnya. Justru pesan yang beliau sampaikan.
”Kalau uang transport dari saya tidak masalah. Tapi kalau ada orang yang memberi uang karena berita, jangan diterima. Wartawan tidak boleh menerima imbalan karena pemberitaan.” Kalimat itu sederhana. Namun hingga hari ini masih melekat kuat dalam ingatan saya.
Beliau memang sosok yang sederhana, termasuk dalam menulis. Tidak banyak kata-kata rumit. Tidak pula berusaha terlihat paling pintar. Tetapi setiap tulisan yang lahir dari tangannya selalu sampai kepada pembaca.
Ketika masih aktif di Harian Umum Koran Padang, saya sering menulis berita-berita dari Limapuluh Kota, wilayah tugas saya saat itu. Jika ada isu yang menarik dan penting, keesokan harinya saya hampir selalu penasaran melihat halaman depan Koran Padang.
Saya ingin melihat apakah Pak Adi menulis sesuatu tentang berita tersebut. Dan sering kali benar. Di halaman satu, pada ruang yang menjadi ciri khasnya, hadir Catatan Adi Bermasa. Tulisan-tulisannya sejuk. Mengkritik dengan santun, Terutama ketika membahas persoalan pembangunan, dinamika sosial, hingga berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Dari tulisan-tulisan itu pulalah saya belajar bahwa tugas wartawan bukan hanya menyampaikan informasi. Wartawan juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga akal sehat publik, mengingatkan para pengambil kebijakan, dan tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Hari ini Pak Adi telah berpulang. Namun saya percaya, jejak pemikiran, nilai-nilai jurnalistik, serta pesan-pesan yang beliau tinggalkan akan terus hidup dalam ingatan banyak orang. Terutama bagi kami yang pernah belajar, bekerja, dan mengenal beliau lebih dekat.
Terima kasih atas ilmu, nasihat, dan keteladanan yang pernah diberikan.
Selamat jalan, Pak Adi.
Nasihat itu masih saya ingat hari ini: wartawan jangan sampai menjual berita.
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Al-Fatihah.!















