Limapuluh Kota, Dekadepos.id
Bencana yang terjadi di Sumatera Barat serta di Provinsi Riau beberapa waktu lalu tidak saja berdampak pada akses Jalan, namun juga terhadap kunjungan wisata ke Objek Wisata di Kabupaten Limapuluh Kota, terutama ke Objek Wisata Lembah Harau. Kondisi itu menyebabkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurun dari target.
Hingga pertengahan Desember 2024, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga menyebutkan capaian PAD baru mencapai Rp. 800 juta. Selain dampak bencana Banjir di Lembah Harau, Jalan Rusak Silaiang serta Jalan Putus di Riau, penurunan pemasukan dari Lembah Harau juga diakibatkan Masyarakat yang belum cerdas dalam menggunakan Media Sosial (MEDSOS) sehingga kondisi berencana yang tersebar di Media Sosial menjadi ketakutan atau keengganan Wisatawan untuk datang.
Meski capaian PAD masih diangka Rp. 800 juta, libur Natal dan Tahun Baru (NATARU) diharapkan bisa menambah pencapaian target pada tahun 2024 yang mencapai Rp. 3,5 M. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Limapuluh, Syukri Anda di Kantornya.
” Iya, untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Limapuluh Kota dari kepariwisataan sesuai kondisi di tahun 2924 memang kita mengalami penurunan. Kondisi itu dari awal kita memang bergantung pada alam, situasi Sumatera Barat itu keadaan bencana membuat kunjungan drastis menurun,” ucapnya, Selasa 17 Desember 2024.
Lebih jauh ia mengatakan bahwa pada medio atau pertengahan tahun 2024, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Limapuluh Kota berada di posisi tiga besar di Provinsi Sumatera Barat, namun belakangan terjadi bencana yang sangat berdampak.
” Medio atau pertengahan tahun 2024, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Limapuluh Kota berada di posisi tiga besar di Provinsi Sumatera Barat, namun belakangan terjadi bencana yang sangat berdampak,” tambahnya.
Selain disebabkan bencana dan framing di berbagai Media Sosial yang menyebabkan Wisatawan tidak datang berkunjung, dukungan dari berbagai pihak dan OPD juga belum maksimal untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Limapuluh Kota, khususnya ke Lembah Harau.
” Kedepannya tentu kita harapkan semua pihak, termasuk masyarakat untuk cerdas menyikapi berita (memframing) di media supaya tidak terbangun image negatif bagi pengunjung bahwa objek wisata di Kabupaten Limapuluh Kota tidak terimbas bencana dalam jangka waktu panjang. Seperti banjir yang terjadi di Kecamatan Harau lalu, banjir terjadi hanya beberapa hari, namun ketakutan wisatawan akibat framing di Media Sosial sangat berdampak besar,” ujarnya.
Selain itu, penyebab pencapaian PAD pada tahun 2024 belum maksimal adalah Perda 02 tahun 2024 tentang Retribusi yang tidak mendapatkan dukungan yang maksimal, sehingga belum bisa diterapkan di pintu gerbang masuk kawasan Lembah Harau.
” Pada prinsipnya secara aturan sudah bisa kita terapkan, nanti akan kita lengkapi dengan Peraturan Bupati (PERBUP), tentu ini semua butuh dukungan semua pihak, termasuk Stakeholder atau OPD.” Tutupnya. (Edw)















