Mencintai Allah: Perjalanan Hati Menuju Keabadian
Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.*
Di tengah peradaban modern yang dipenuhi kompetisi, manusia sesungguhnya sedang mencari satu hal yang sama: cinta. Sebagian mencarinya dalam kekayaan, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial. Sebagian lain menemukannya dalam keluarga, sahabat, atau pasangan hidup. Namun sejarah membuktikan bahwa hampir semua cinta kepada selain Allah memiliki batas. Ia dapat berubah karena kepentingan, memudar oleh waktu, bahkan berakhir ketika maut memisahkan.
Di antara sekian banyak cinta, hanya ada satu yang tidak pernah mengecewakan, tidak pernah berkhianat, dan tidak pernah berakhir, yaitu mahabbah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah cinta yang menjadi sumber ketenangan jiwa sekaligus tujuan akhir perjalanan seorang mukmin.
Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mahabbah menempatkan cinta kepada Allah sebagai maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual manusia. Menurut Hujjatul Islam itu, taubat, sabar, zuhud, wara’, dan mujahadah bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju mahabbah. Ketika seorang hamba telah mencapai cinta kepada Allah, lahirlah buah-buah spiritual berupa syauq (kerinduan), uns (keakraban dengan Allah), ridha, tawakal, serta ketenteraman hati.
Pandangan Al-Ghazali ini mengajarkan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada banyaknya ritual atau luasnya pengetahuan agama. Hakikat agama adalah ketika seluruh ibadah dilakukan karena cinta kepada Allah. Shalat tidak lagi menjadi beban, melainkan perjumpaan. Tilawah bukan sekadar bacaan, melainkan dialog batin. Sedekah bukan kehilangan harta, tetapi ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemberi Nikmat.
Al-Qur’an menggambarkan ciri utama orang beriman dengan ungkapan yang sangat indah:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah: 165).
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kualitas iman tidak hanya diukur dari banyaknya amal, tetapi dari kedalaman cinta kepada Allah. Ketika cinta menjadi fondasi, ibadah akan terasa ringan, pengorbanan menjadi indah, dan musibah dipandang sebagai jalan mendekat kepada-Nya.
Mengapa manusia harus mencintai Allah?
Pertama, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih. Dalam Al-Qur’an, nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim merupakan dua nama Allah yang paling sering diulang. Keduanya berasal dari akar kata رَحِمَ (rahima) yang berarti kasih sayang, kelembutan, dan cinta.
Allah SWT berfirman:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru-Nya, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).’” (Q.S. Al-Isra’: 110).
Hampir setiap aktivitas seorang muslim diawali dengan kalimat:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Ini bukan sekadar pembuka, tetapi pengingat bahwa seluruh kehidupan berada dalam pelukan kasih sayang Allah.
Secara etimologis, kata rahmah memiliki akar yang sama dengan kata rahim, tempat seorang ibu mengandung dan melindungi anaknya. Para ulama menjelaskan bahwa hal itu menggambarkan betapa luas dan lembutnya kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Bahkan ketika manusia lalai dan berdosa, pintu rahmat-Nya tetap terbuka selama hamba itu mau kembali kepada-Nya.
Dalam perspektif psikologi modern, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai merupakan kebutuhan dasar manusia. Banyak gangguan emosional berawal dari rasa kehilangan kasih sayang dan makna hidup. Di sinilah Islam menawarkan fondasi psikologis yang kokoh. Seorang mukmin tidak pernah benar-benar sendirian, karena ia meyakini dirinya selalu berada dalam limpahan cinta Allah. Keyakinan ini melahirkan ketahanan mental (resilience), optimisme, dan kemampuan bangkit dari berbagai ujian kehidupan.
Alasan kedua, karena Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang taat.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ…
“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril mencintainya dan menyeru penduduk langit agar mencintainya…” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah seberapa terkenal seseorang di bumi, melainkan seberapa dicintai ia oleh Allah di langit. Popularitas bisa dibangun oleh pencitraan, tetapi kemuliaan di sisi Allah hanya diperoleh melalui keikhlasan dan ketakwaan.
Ketiga, mahabbah kepada Allah akan melahirkan akhlak yang mulia. Orang yang mencintai Allah akan mudah memaafkan, ringan berbagi, jujur, amanah, rendah hati, serta menjauhi kezaliman. Ia tidak berbuat baik demi tepuk tangan manusia, tetapi demi meraih ridha Rabb-nya.
Dalam perspektif sosiologi, masyarakat yang dibangun di atas fondasi cinta kepada Allah akan melahirkan solidaritas sosial, kepedulian terhadap sesama, dan semangat menebarkan kemaslahatan. Sebaliknya, masyarakat yang kehilangan orientasi ketuhanan akan mudah terjebak pada materialisme, individualisme, hedonisme, dan budaya flexing yang menumbuhkan iri, dengki, serta kegelisahan sosial.
Fenomena kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia juga menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin. Manusia modern memiliki lebih banyak fasilitas, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak ketenteraman. Mereka mampu terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, tetapi sering kali kehilangan hubungan yang paling penting, yaitu hubungan dengan Allah.
Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal melalui ibadah, tetapi juga menghadirkan makna hidup. Mahabbah kepada Allah menjadi energi spiritual yang mengubah cara pandang manusia terhadap dunia. Harta menjadi amanah, jabatan menjadi pengabdian, ilmu menjadi cahaya, dan musibah menjadi sarana penyucian jiwa.
Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا…
“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…”(H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, melainkan pengalaman spiritual yang menghadirkan halawatul iman yaitu manisnya iman yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan, jabatan, ataupun popularitas.
Pada akhirnya, mahabbah bukan sekadar konsep tasawuf yang dibahas di ruang-ruang kajian, tetapi kebutuhan mendasar manusia modern yang hidup di tengah arus materialisme dan krisis makna. Sebagaimana ditegaskan Imam Al-Ghazali, seluruh perjalanan spiritual seorang mukmin bermuara pada satu titik: cinta kepada Allah. Dari cinta lahir kerinduan, dari kerinduan lahir kedekatan, dari kedekatan lahir keridaan, dan dari keridaan lahirlah kebahagiaan yang hakiki.
Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apakah kita mengaku mencintai Allah?” Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah, “Sudahkah cinta kepada Allah menjadi ruh di balik setiap sujud, doa, amal, keputusan, dan langkah kehidupan kita?”
Ketika Allah menjadi cinta terbesar dalam hati, dunia tidak lagi menjadi tujuan, melainkan jalan. Harta tidak lagi menjadi kebanggaan, melainkan amanah. Jabatan bukan lagi alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana melayani sesama. Dan kematian bukanlah akhir perjalanan, tetapi gerbang menuju keabadian bersama Dzat yang selama ini paling kita cintai.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Dai, Advokat, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter)















