Bukittinggi, Dekadepos.id
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bukittinggi mengecam keras tindakan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bukittinggi yang terlibat bentrokan fisik di lingkungan Kampus Fort de Kock Bukittinggi. HMI menilai peristiwa tersebut telah mencederai suasana akademik yang seharusnya aman dan kondusif.
Ketua Umum HMI Cabang Bukittinggi, Ahmad Zaki, melalui siaran pers yang diterima wartawan, menyatakan bahwa kampus merupakan ruang civitas akademika yang harus terbebas dari segala bentuk kekerasan maupun intimidasi. Menurutnya, sengketa lahan antara pihak yayasan dengan Pemerintah Kota Bukittinggi tidak seharusnya berujung pada aksi fisik di lingkungan pendidikan.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan HMI, personel Satpol PP disebut mendatangi area kampus tanpa pemberitahuan formal. Aparat juga dilaporkan memasuki kawasan kampus melalui jalur belakang dengan memanjat pagar untuk memasang plang pengamanan Barang Milik Daerah (BMD).
Tindakan tersebut kemudian memicu adu argumen yang berujung pada aksi saling dorong dan bentrokan fisik antara kedua belah pihak.
HMI Cabang Bukittinggi menilai penyelesaian sengketa seharusnya dilakukan melalui dialog yang humanis, demokratis, dan transparan, bukan dengan pendekatan represif yang berpotensi menimbulkan konflik.
Selain menyampaikan kecaman, HMI menyatakan akan menempuh langkah-langkah penyelesaian yang mengedepankan pendekatan problem solving bersama Pemerintah Kota Bukittinggi. Hal itu mengingat terdapat sejumlah kader HMI yang aktif sebagai bagian dari civitas akademika di kawasan Fort de Kock.
HMI juga mendesak Pemerintah Kota Bukittinggi untuk menghentikan segala bentuk intimidasi dan penggunaan kekuatan di lingkungan kampus. Menurut organisasi tersebut, kampus harus tetap menjadi ruang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, bukan menjadi arena konflik. (Arm/Rel)















