MEMAKNAI IHDINAA ASH-SHIRAATHAL-MUSTAQIIM
Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.*
SETIAP hari, minimal 17 kali kita membaca doa ini dalam shalat: ” Ihdinaa ash-shiraathal-mustaqiim” — “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”
Namun, sudahkah kita benar-benar memahami maknanya?
Dalam Tafsir Al-Fatihah, K.H. A. Zakaria menjelaskan bahwa doa ini adalah inti dari seluruh isi Al-Qur’an. Kata _“ihdinaa”_ berasal dari akar kata h-d-y yang berarti membimbing dengan kasih sayang menuju kebaikan. Jadi, bukan sekadar “menunjukkan arah”, tapi memohon agar Allah sendiri membimbing langkah kita agar tidak tersesat.
Lalu kata “ash-shiraath” berarti jalan besar yang jelas dan lebar, bukan gang sempit atau jalan samar. Artinya, Islam itu terang dan terbuka—semua orang bisa menempuhnya tanpa kebingungan, asalkan mau mengikuti petunjuk. Sedangkan _“al-mustaqiim” berarti lurus, tegak, tidak bengkok. Maka, yang diminta bukan hanya jalan menuju tujuan, tapi jalan hidup yang lurus secara moral, sosial, dan spiritual.
K.H. A. Zakaria menegaskan: jalan lurus bukan hanya ibadah ritual, tapi juga gaya hidup yang selaras dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Seorang muslim yang jujur dalam bekerja, adil dalam memimpin, santun dalam berbicara, dan ikhlas dalam beribadah — dialah yang sedang berjalan di jalan yang lurus.
Membaca ayat ini sejatinya adalah pengakuan bahwa kita lemah tanpa petunjuk Allah. Dunia modern sering menawarkan banyak “jalan” – karier, materi, popularitas – tapi tidak semuanya membawa kita pada kebenaran. Maka, doa ini adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba yang terus mencari arah sejati hidupnya.
Setiap kali kita mengucapkan _“Ihdinaa ash-shiraathal-mustaqiim”_, seharusnya hati kita berkata:“Ya Allah, jangan biarkan aku berjalan sendiri. Bimbing aku agar tetap di jalan yang Engkau ridai, yaitu jalan para nabi, orang saleh, dan pejuang kebenaran.”
Jalan lurus itu bukan sekadar garis di peta hidup, melainkan kompas hati yang selalu diarahkan kepada Allah.
Dan doa ini sederhana tapi agung sebagai pengingat abadi bahwa petunjuk sejati hanya datang dari-Nya.
*Dai, Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik.















