JAKARTA, dekadepos.id – Aksi demontrasi sekelompok orang mengatas namakan Aliansi Mahasiswa Peduli Hukum (AMPH) yang digelar di kantor Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) di Jakarta kuat dugaan ditunggangi kepentingan.
Hal itu diungkapkan mantan Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan yang mengaku menyaksikan langsung aksi demontrasi yang digelar sekelompok orang di kantor Kemendagri Republik Indonesia di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
” Kami yang secara kebetulan sedang berada di Jakarta berkesempatan memantau perkembangan di Kemendagri. Hasil pantauan di lokasi aksi demo yang digelar sekelompok orang di kantor Kemendagri mengangkat isu persoalan rekaman Video Call Sex (VCS) yang dikaitkan dengan Bupati Limapuluh Kota, Safni Sikumbang, berat dugaan ditunggangi kepentingan pihak tertentu,” ujar Ferizal Ridwan yang akrap disapa Buya Feri berkomentar.
Menurut Buya Feri, sesuai pamflet yang beredar di media sosial (medsos) terkait aksi demo soal rekaman VCS mirip Bupati Safni Sukumbang, rencananya akan digelar Rabu 22 April 2026, namun aksi massa tersebut urung terlaksana dan baru digelar Jumat 24 April 2026.
” Sesuai pantauan dan kontak kami dengan koordinator lapangan (korlap), ternyata yang ikut demo bukan yang berkepentingan atau pihak yang dirugikan. Data yang kami peroleh yang ikut aksi demo di Kemendagri warga Minang hanya 5 orang dan 2 urang diantaranya berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota dan selebihnya berasal dari luar Sumatera Barat seperti dari Sumatera Utara dan anak-anak dari Timur. Mereka yang ikut berdemo tidak tahu dan belum pernah ke Kabupaten Limapuluh Kota. Kenal saja dengan daerah Kabupaten Limapuluh Kota tidak, apalagi kenal dengan Bupati Safni Sikumbang, ” ujar Buya Feri.
Lebih jauh diungkapkan Buya Feri, para pendemo tersebut hanya sisipan dan berat dugaan ditunggangi kepentingan segelintir orang.
” Kami yang secara kebetulan ada kegiatan lain di Jakarta berkesempatan memantau perkembangan di Kemendagri. Sebelumnya sempat berdiskusi dengan utusan pengagas aksi di sebuah hotel di wilayah Senen. Maka kami dapatkan informasi perkembangan dan mereka memilih aksi demo digelar di hari Work From Home ( WFH) atau bukan jam kantor disebabkan keraguan dan ketidakpastian persoalan ini,” ungkap Buya Feri.
Pada kesempatan ini, tegas Buya Feri dia menghimbau dan mengajak semua pihak untuk menahan diri dan jangan terpancing serta hentikan lah sampai disini persoalan remeh temeh tersebut. Semua aksi-aksi tersebut, toh juga tidak akan menjatuhkan atau memberhentikan apalagi impeachment atau memundurkan Safni Sikumbang dari jabatan Bupati. Upaya memakzulkan Bupati Safni Sikumbang tak lebih hanya buang-buang enerji dan menggangu stabilitas silaturahim serta semangat kerja.
” Kami secara pribadi mengajak untuk mencari kebaikan atau bagaimana baiknya ketimbang mencari salah dan benar. Jika ingin mencari kebenaran, ya.. di pengadilan. Himbauan dan ajakan ini semata-mata usaha tagak kampung paga kampung, tegak daerah pagar daerah. Tak mungkin persoalan pemimpin kita, pihak lain malah memanfaat situasi itu untuk kepentingan tertentu. Buktinya dari 20 orang yang hadir dalam aksi demo di Kemengari tadi, cuma 2 orang dari Kabupaten Limapuluh Kota dan sisanya orang luar, dan kebetulan ada anak Sumut yang pernah kuliah di Politani di Kabupaten Limapuluh Kota.” pungkas Buya Feri. (DS)















