Antara Detik yang Hilang dan Keabadian yang Menanti
Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
Setiap detik yang berlalu sejatinya adalah bagian dari hidup kita yang tak akan pernah kembali. Umur manusia berjalan satu arah: dari kelahiran menuju kematian, dari dunia yang fana menuju akhirat yang kekal.
Al-Qur’an menegaskan: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3).
Ayat singkat ini seperti alarm kehidupan. Ia mengingatkan bahwa waktu bisa menjadi jalan menuju keselamatan, atau justru menjadi catatan kerugian.
Dunia memang menggoda. Harta, jabatan, dan popularitas sering membuat manusia merasa seakan-akan hidup ini abadi. Namun Al-Qur’an mengingatkan: “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, dan berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20).
Artinya, dunia indah hanya sebentar. Semua kenikmatan di dalamnya ada batasnya, dan setiap kesenangan membawa konsekuensi. Rasulullah ﷺ menegaskan: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi).
Singkatnya, tidak ada kenikmatan dunia yang benar-benar gratis. Semuanya akan dipertanyakan.
Berbeda dengan dunia, kenikmatan akhirat bersifat kekal. Allah berfirman: “Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96).
Surga digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan kenikmatan tanpa batas. Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kenikmatan itu bukan hanya tentang sungai madu atau istana mewah, melainkan kebahagiaan sejati: hidup tanpa rasa takut, tanpa sakit, tanpa sedih, dan bisa melihat wajah Allah.
Para ulama selalu mengingatkan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Imam Al-Ghazali menulis: “Waktu adalah modal kehidupan. Jika hilang tanpa menghasilkan kebaikan, maka kerugianlah yang diperoleh.”
Hasan Al-Bashri juga berkata: “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari pergi, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”
Filsafat modern sejalan dengan itu. Waktu dianggap irreversible — tidak bisa diputar ulang. Inilah mengapa pepatah Arab mengatakan: “Al-waqtu ka al-saif, in lam taqtha‘hu qatha‘aka” – waktu ibarat pedang; jika tidak engkau gunakan, ia akan menebasmu.
Hari ini, manusia sering terjebak dalam kesibukan dunia yang menguras waktu. Media sosial, hiburan digital, hingga gaya hidup konsumtif menyita jam-jam berharga yang seharusnya bisa diisi dengan kebaikan. Kita sibuk, tetapi sering lupa arah; bergerak cepat, tetapi tidak sampai tujuan. Padahal, setiap detik yang hilang adalah bagian dari umur yang tak pernah kembali. Sementara di ujung perjalanan, ada keabadian yang menanti.
Rasulullah ﷺ pernah berpesan: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari).
Seorang pengembara tidak akan membangun istana di jalan, karena tujuannya adalah kampung halaman. Begitu pula kita, dunia hanyalah jalan, akhirat adalah rumah sejati.
Bijak memaknai waktu dimaknai sebagai bijak menggunakan detik-detik yang tersisa untuk menanam amal, bukan sekadar mengejar kenikmatan fana. Sebab pada akhirnya, antara detik yang hilang dan keabadian yang menanti, kita semua akan memilih: rugi atau beruntung.
*Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh dan Wakil Ketua PW Persatuan Islam (PERSIS) Provinsi Sumatera Barat.















