Scroll untuk baca artikel
AgamaDakwahPendidikan

Ketika Amal Menjadi Berhala

×

Ketika Amal Menjadi Berhala

Sebarkan artikel ini

Ketika Amal Menjadi Berhala

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Ada ironi yang sering luput disadari. Seseorang tekun shalat malam, gemar bersedekah, rajin membaca Al-Qur’an, aktif berdakwah, bahkan mengabdikan hidupnya untuk agama. Namun seluruh amal itu dapat kehilangan nilainya bukan karena sedikit, melainkan karena diam-diam melahirkan ujub—kekaguman terhadap diri sendiri.

Ujub adalah penyakit hati yang paling halus sekaligus paling berbahaya. Ia tidak tampak di wajah, tidak terdengar dalam ucapan, tetapi mampu menggerogoti keikhlasan hingga amal yang menjulang tinggi runtuh dari dalam. Musuh terbesar seorang ahli ibadah sering kali bukan kemalasan, melainkan rasa bangga terhadap ibadahnya sendiri.

Allah SWT mengingatkan:”Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (Q.S. An-Najm [53]: 32).

Ayat ini menegaskan bahwa standar kemuliaan bukanlah penilaian manusia, apalagi penilaian diri sendiri, melainkan ketakwaan yang hanya diketahui Allah. Kesalehan bukanlah gelar yang boleh disematkan kepada diri sendiri, tetapi rahasia yang hanya diputuskan oleh Allah SWT.

Kesalahan terbesar orang yang ujub adalah menganggap amal sebagai hasil jerih payahnya sendiri. Padahal kemampuan shalat, berpuasa, bersedekah, menuntut ilmu, bahkan kemampuan bernapas, seluruhnya merupakan taufik dan karunia Allah.

Allah berfirman:”Dan nikmat apa saja yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya.” (Q.S. An-Nahl [16]: 53).

Karena itu, membanggakan amal sama saja dengan membanggakan sesuatu yang hakikatnya adalah pemberian Allah. Amal bukanlah prestasi pribadi, melainkan amanah Ilahi. Semakin tinggi amal seseorang, semestinya semakin dalam rasa syukurnya, bukan semakin tinggi kesombongannya.

Pelajaran pertama tentang ujub justru datang dari Iblis. Ia tidak binasa karena malas beribadah, melainkan karena merasa lebih mulia daripada Adam. “Aku lebih baik daripadanya.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 12).

Kalimat singkat itu menjadi awal kehancurannya. Kesombongan telah menghapus nilai pengabdiannya.

Di sinilah letak bahaya ujub. Ia tidak selalu mengurangi jumlah amal, tetapi menghancurkan ruh amal. Ibadah yang semestinya mengantar manusia semakin dekat kepada Allah justru berubah menjadi tangga untuk meninggikan ego.

Rasulullah SAW bersabda:”Ada tiga perkara yang membinasakan: sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang kagum terhadap dirinya sendiri.” (H.R. ath-Thabrani dan al-Baihaqi).

Mengapa ujub disebut sebagai perkara yang membinasakan? Karena ia melahirkan ilusi kesempurnaan. Orang yang ujub merasa telah cukup saleh, enggan menerima nasihat, alergi terhadap kritik, tetapi haus akan pujian. Padahal, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa penuh kekurangan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menyebut ujub sebagai racun keikhlasan. Sementara Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal adalah lahirnya sikap tawadhu’, bukan rasa bangga. Amal yang diterima melahirkan kerendahan hati; amal yang dibanggakan justru melahirkan kesombongan.

Al-Qur’an menggambarkan karakter orang beriman:”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 60).

Ketika Sayyidah Aisyah bertanya tentang ayat ini, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan bersedekah, tetapi tetap takut amalnya tidak diterima.

Inilah paradoks orang-orang saleh. Semakin banyak amal mereka, semakin besar rasa takutnya. Sebaliknya, semakin kuat ujub, semakin tipis rasa takut kepada Allah.

Berhala pada masa jahiliah terbuat dari batu dan kayu. Berhala zaman modern sering kali bernama ego.

Seseorang mungkin tidak pernah menyembah patung, tetapi tanpa sadar menyembah citra dirinya sebagai orang saleh. Ia lebih menikmati pujian daripada munajat, lebih sibuk menghitung amal daripada menghitung dosa, lebih mudah melihat aib orang lain daripada mengoreksi dirinya sendiri.

Pada titik inilah amal berubah menjadi berhala. Yang diagungkan bukan lagi Allah, melainkan kebanggaan atas amal itu sendiri. Ibadah kehilangan orientasi transendennya dan berubah menjadi instrumen pencitraan.

Para ulama salaf mengatakan, menjaga keikhlasan jauh lebih sulit daripada memperbanyak amal. Karena itu, setelah beramal jangan bertanya, “Sudah berapa banyak yang aku lakukan?” tetapi bertanyalah, “Apakah Allah berkenan menerimanya?”

Allah SWT berfirman:”Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 27).

Doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah membangun Ka’bah patut menjadi teladan:”Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).»

Jika Nabi Ibrahim masih memohon agar amalnya diterima, bagaimana mungkin kita merasa yakin bahwa amal kita pasti bernilai di sisi Allah?

Hakikat ibadah bukanlah membesarkan manusia, melainkan mengecilkan ego di hadapan kebesaran Allah. Semakin mengenal Tuhannya, semakin seorang hamba menyadari bahwa amalnya hanyalah setetes air di hadapan samudra rahmat-Nya.

Jangan biarkan shalat melahirkan kesombongan, sedekah melahirkan kebanggaan, ilmu melahirkan keangkuhan, atau dakwah melahirkan perasaan paling benar. Sebab ketika amal telah menjadi berhala, yang disembah bukan lagi Allah, melainkan diri sendiri.

Pada akhirnya, yang mengantarkan manusia ke surga bukanlah banyaknya amal yang dibanggakan, tetapi rahmat Allah yang menyelimuti amal yang ikhlas, benar, dan diterima. Karena itu, marilah terus memohon agar Allah membersihkan hati dari ujub, riya’, dan takabur, serta menghiasi jiwa dengan tawadhu’, syukur, dan keikhlasan. Sebab, amal yang paling besar bukanlah amal yang paling banyak dipuji manusia, melainkan amal yang paling diterima oleh Allah SWT. (*)

Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *