Payakumbuh, Dekadepos.id
Jendela Tua
Selalu. Pada akhirnya kita akan pulang pada kesendirian. Setelah suami meninggal. Setelah anak-anak memilih rantau sebagai tujuan kehidupan. Dan rumah gadang hanya tinggal sebagai simbol kekokohan yang sebenarnya teramat rapuh dan sunyi. Di sanalah bermukimnya para ibu tua. Dengan kebaya lusuh. Dengan selendang usang. Menyulam waktu yang tak terukur. Menjahit rentang tak terkira. Lengang. Dan sendiri. Tapi hidup, tentu akan terus berjalan……..
Jika membaca baris demi baris puisi diatas, kita mungkin akan mudah mengenali siapa penyairnya.. ya.. itu merupakan penggalan Puisi Karya Sastrawan kebanggaan Provinsi Sumatera Barat, Khususnya Kota Payakumbuh.
Namun kini, Kuyut, panggilan Iyut Fitra tak lagi bisa seperti biasanya, pemilik nama asli Zulfitra itu, hanya bisa terbaring sambil menahan sakit, sementara badannya kian hari kian kurus. Membantu meringankan beban hidupnya, sejumlah Wartawan melakukan penggalangan/donasi bagi penulis Cerpen Wanita Berpayung Hitam dan Wartel itu.
” Alhamdulillah, sampaikan rasa terima kasih atas donasi/bantuan bapak/ibu dan dermawan semuanya, semoga dibalasi Allah dengan kebaikan,”ucap penulis Cerpen Rumah untuk kemenakan itu, Minggu 15 Maret 2026.
Namun ketika ditanya jenis penyakitnya, Kuyut yang menahan rasa sakit dan kantuk, terlihat enggan menjawab. Ia berharap juga didoakan oleh banyak orang.
” Doakan saja, mudah-mudahan penyakit ini segera diangkat Allah, dan kuyut bisa kembali beraktivitas seperti biasanya.”harap pria yang aktif di Sanggar seni Intro Payakumbuh itu.
DIBEZUK MANTAN BUPATI PERIODE 2016-2021
Kabar terbaring sakitnya Sastrawan Iyut, sejak satu tahun terakhir, mendapat perhatian dari mantan Bupati Limapuluh Kota periode 2016-2021, Irfendi.
Senin pagi 16 Maret 2026, Irfendi berkunjung ke “pondok” Iyut Fitra di Kelurahan Padang Tangah Balai Nan Duo Kecamatan Payakumbuh Barat.
” Pagi ini kami sengaja datang untuk melihat langsung kondisi Sastrawan kebanggaan Sumatera Barat, Iyut Fitra yang terbaring sakit sejak tahun lalu, semoga kedatangan kami dapat terus memberikan semangat agar ia kembali sehat,”ucapnya.
Sambil berseloroh, Irfendi menyebut bahwa Sastrawan tidak boleh lama-lama sakit, sebab karyanya ditunggu oleh masyarakat.
” Sakitnya cukup sampai disini, sebab kalau sakit terus, kami kehabisan bahan bacaan/sastra untuk dibaca atau dinikmati.”ucap Irfendi sambil menyerahkan bantuan.
Sekedar informasi, Iyut Fitra dilahirkan di Payakumbuh, Sumatra Barat. Buku-buku puisinya, antara lain, adalah Musim Retak, Dongeng-Dongeng Tua, Beri Aku Malam, Baromban, Lelaki dan Tangkai Sapu, Mencari Jalan Mendaki, Sinama, Kepadamu Kami Bicara. Buku Mencari Jalan Mendaki meraih penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2019 dan buku Lelaki dan Tangkai Sapu mendapatkan Anugerah Sastra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2020. Buku puisinya Dengung Tanah Goyah (JBS, 2024) terpilih sebagai tiga besar buku sastra pilihan Tempo 2024. (Edw)















