Scroll untuk baca artikel
AdvetorialBerita

Saya Tidak Tahu Sampai Kapan Dekade Akan Bertahan. Tapi Hari Ini Kami Genap 20 Tahun

×

Saya Tidak Tahu Sampai Kapan Dekade Akan Bertahan. Tapi Hari Ini Kami Genap 20 Tahun

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ridho Muldi Putra
Pemilik Dekadepos.id

Saya tidak tahu apakah Anda masih ingat berita pertama yang pernah Anda baca di Dekade. Mungkin Anda membacanya dari koran, mungkin dari komputer di warnet ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti sekarang. Mungkin Anda pernah menunggu berita kriminal yang ditulis Dekade, mencari sebuah nama yang kebetulan sedang diberitakan, atau pernah mengirim informasi kepada wartawan kami. Bisa jadi Anda bahkan pernah marah karena nama Anda atau orang yang Anda kenal muncul dalam sebuah berita. Bisa juga Anda baru mengenal Dekade beberapa tahun terakhir, ketika semuanya sudah berada di layar ponsel.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Saya tidak tahu.

Tetapi kalau Anda pernah membaca Dekade, dalam bentuk apa pun, sesungguhnya Anda sudah menjadi bagian dari cerita yang ingin saya bicarakan hari ini. Karena pada 20 Agustus 2026, Dekade genap berusia 20 tahun.

Dua puluh tahun. Ketika saya menuliskan angka itu, rasanya agak sulit dipercaya. Sebab saya masih bisa membayangkan bagaimana semuanya bermula.

Agustus 2006.

Waktu itu, Dekade belum seperti sekarang. Ia bukan sebuah media online dengan berita yang bisa dibaca kapan saja dari telepon genggam. Ia adalah sebuah koran dwi mingguan lokal.

Koran itu didirikan oleh ayah saya, Doddy Sastra, bersama rekan-rekannya, salah satunya dikenal dengan panggilan Kumis, sementara nama satu lagi terus terang saya sudah lupa. Dari nama mereka, D-K-D, lahirlah nama yang kemudian kami bawa sampai hari ini: Dekade POS. Saya sendiri tidak pernah benar-benar tahu dari mana kata “POS” kemudian dilekatkan pada nama Dekade. Mungkin memang ada cerita yang belum saya ketahui. Tetapi nama itu bertahan, dan ternyata perjalanan yang dimulainya juga jauh lebih panjang dari yang mungkin dibayangkan ketika itu.

Di koran tersebut ada sebuah logo setengah bola dunia. Bagi orang lain mungkin hanya sebuah logo, tetapi saya melihatnya sebagai sebuah cita-cita: ada keinginan untuk membawa informasi dari daerah ini keluar dari batas-batas tempat kami berada. Dari Luhak Limopuluah, dari Sumatera Barat, agar cerita tentang masyarakat di sini bisa diketahui lebih luas.

Sebuah mimpi yang sederhana, tetapi menurut saya cukup besar untuk sebuah koran lokal pada zamannya.

Koran Dwi mingguan dekadepos 2012

Lalu zaman berubah.

Internet datang, cara orang membaca berita berubah, dan kebiasaan menunggu koran perlahan mulai ditinggalkan. Berita yang kemarin masih dianggap baru, hari ini bisa menjadi basi dalam hitungan jam. Dekade pun harus memilih: ikut berubah atau perlahan ditinggalkan zaman.

Pada 2016, Dekade masuk ke dunia digital melalui dekadepos.com. Bagi saya, itu adalah salah satu titik penting dalam perjalanan Dekade. Kami tidak sekadar memindahkan berita dari kertas ke internet; kami sedang belajar menjadi media dengan cara yang sama sekali berbeda. Di dunia online, berita tidak bisa menunggu terlalu lama.

Dan di sinilah saya harus menyebut satu nama yang sangat penting dalam perjalanan Dekade: Edwardi, Pimpinan Redaksi kami. Saya lebih akrab memanggilnya Bang Ed.

Kalau ada satu kalimat yang menurut saya cocok untuk Bang Ed, mungkin begini: dia tidak terlalu suka menunggu berita datang; dia lebih suka mengejarnya.

Pada masa Instagram belum menjadi tempat orang mencari berita seperti sekarang, berita kriminal adalah salah satu yang paling ditunggu pembaca Dekade. Ada penangkapan, ada kasus, ada kejadian di lapangan; Bang Ed bergerak lebih dulu. Kadang harus pergi ketika orang lain baru mendengar kabarnya, kadang harus menunggu perkembangan sebuah kasus, dan kadang ikut dalam proses penangkapan sekaligus meliput langsung dari lapangan.

Ada satu hal yang membuat berita-berita Dekade ketika itu punya ciri sendiri: fotonya original.

Bukan mengambil foto dari media sosial, bukan menunggu orang lain mengirimkan gambar. Ada wartawan di lapangan, ada kamera, ada kejadian yang harus dikejar. Pembaca tahu itu. Karena itulah dulu tidak sedikit orang yang menunggu berita kriminal Dekade.

“Sudah naik belum?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi kami, itu adalah penghargaan. Artinya ada orang yang menunggu pekerjaan kami; ada orang yang percaya bahwa kalau sesuatu terjadi, Dekade akan berusaha memberitakannya.

Bang Ed punya peran besar dalam membangun kebiasaan itu. Saya tidak ingin menggambarkan dirinya dengan kalimat-kalimat yang terlalu muluk. Orang yang bekerja di lapangan biasanya tidak membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan apa yang sudah dilakukannya. Cukup lihat perjalanan Dekade.

Ada banyak berita yang tidak akan sampai ke halaman pembaca kalau tidak ada orang yang mau pergi ke lokasi. Ada banyak foto yang tidak akan pernah ada kalau tidak ada yang mau berdiri di tempat kejadian. Ada banyak informasi yang mungkin terlambat diketahui kalau tidak ada orang yang terus mengejar. Dan Bang Ed adalah salah satu orang yang melakukan itu selama perjalanan Dekade.

Karena itu, ketika hari ini saya berbicara tentang 20 tahun Dekade, saya tidak mungkin hanya menyebut nama perusahaan dan angka usia. Ada manusia-manusia di dalamnya: ayah saya yang memulai, Bang Ed yang berjibaku membesarkan Dekade dari lapangan, serta wartawan, fotografer, editor dan orang-orang di belakang layar yang pernah memberikan waktunya untuk Dekade.

Mereka mungkin tidak semuanya terlihat oleh pembaca. Tetapi tanpa mereka, tidak akan ada berita yang sampai ke tangan Anda.

Perjalanan itu kemudian membawa Dekade tumbuh menjadi salah satu media yang dikenal di Luhak Limopuluah. Kepercayaan datang dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, BNN, Bawaslu dan sejumlah lembaga pernah mempercayai Dekade sebagai media partner.

Kami tentu bersyukur. Namun setelah 20 tahun, saya semakin sadar bahwa penghargaan terbesar bagi sebuah media sebenarnya bukanlah piagam, bukan pula seberapa sering nama kita disebut. Penghargaan terbesar itu sederhana: ketika pembaca masih mau datang dan membaca.

Sebab media bisa punya kantor, punya wartawan, punya website, punya teknologi; tetapi tanpa pembaca semuanya kehilangan makna.

Dan perjalanan Dekade tidak selalu berjalan mulus. Ada berita yang membuat orang senang, ada pula berita yang membuat orang tidak senang. Pernah berita kami diragukan hanya karena ada pihak yang merasa terganggu dengan pemberitaan.

Kami pernah menghadapi akun yang diretas. Dan kami pernah mengalami sesuatu yang mungkin paling menyakitkan bagi sebuah media digital: domain dekadepos.com dicuri.

Bagi orang yang tidak berada di dalamnya, mungkin domain hanya terlihat seperti alamat website. Bagi kami tidak sesederhana itu. Di balik nama itu ada berita yang sudah ditulis bertahun-tahun, ada arsip, ada pembaca, ada kerja keras, ada identitas, dan ada bagian dari perjalanan yang tidak mungkin diulang begitu saja.

Tetapi pada akhirnya kami harus menerima kenyataan bahwa perjalanan tidak selalu memberi kita pilihan yang mudah. Dekade kemudian melanjutkan perjalanan dengan dekadepos.id.

Nama domain berubah, tetapi kami tidak ikut berubah menjadi orang lain. Dekade tetap membawa cerita yang sama.

Dan hari ini, setelah 20 tahun, saya justru melihat satu hal yang sangat jelas: ternyata yang membuat Dekade bertahan bukan domainnya, bukan logonya, bukan gedungnya, dan bukan juga perangkat yang digunakan untuk bekerja.

Yang membuat Dekade bertahan adalah orang-orang di dalamnya dan orang-orang yang membaca di luarnya.

Mungkin karena itu saya tidak ingin ulang tahun ke-20 ini hanya menjadi tulisan tentang kami. Sebab kalau saya menulis “20 tahun Dekade” dan hanya menceritakan apa yang sudah kami lakukan, rasanya ada sesuatu yang kurang.

Karena selama 20 tahun ini, Anda juga ada di sana.

Ada pembaca yang sudah mengenal Dekade sejak masih berupa koran. Ada yang tumbuh bersama berita-berita Dekade. Ada yang pernah menunggu berita kriminal. Ada yang pernah membaca berita tentang kampungnya sendiri. Ada yang pernah menghubungi wartawan kami. Ada yang pernah memberikan kritik, pernah kecewa, bahkan mungkin pernah marah. Dan ada pula yang tetap membaca kami sampai hari ini.

Semua itu adalah bagian dari perjalanan. Bahkan kritik sekalipun. Sebab media yang tidak pernah dikritik mungkin justru media yang tidak pernah diperhatikan.

Sebagai orang yang hari ini dipercaya melanjutkan perjalanan yang dimulai oleh ayah saya 20 tahun lalu, saya menyadari satu hal: memulai sesuatu ternyata lebih mudah daripada menjaga sesuatu tetap hidup.

Menjaga nama yang sudah dibangun selama dua dekade tidak ringan. Menjaga kepercayaan pembaca lebih tidak ringan lagi.

Dunia media sekarang sudah berbeda. Teknologi berubah begitu cepat. Orang membaca berita melalui ponsel. Video pendek bisa lebih cepat menyebar daripada berita. Kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang redaksi. Informasi datang dari mana saja, kapan saja. Di tengah semua itu, kami tentu harus berubah.

Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh ikut berubah: keinginan untuk menghadirkan berita yang dapat dipercaya.

Saya tidak ingin Dekade hanya menjadi media yang cepat. Saya ingin Dekade menjadi media yang ketika disebut namanya, orang tahu bahwa di balik berita itu ada usaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Mungkin kami tidak selalu sempurna. Kami bisa salah. Kami masih harus belajar. Kami masih harus berbenah. Tetapi perjalanan 20 tahun mengajarkan kepada saya bahwa media yang baik bukan media yang tidak pernah salah. Media yang baik adalah media yang mau terus memperbaiki diri dan tidak berhenti menjaga kepercayaan pembacanya.

Hari ini saya ingin mengucapkan terima kasih.

Kepada ayah saya, Doddy Sastra, dan rekan-rekannya yang memulai Dekade pada Agustus 2006. Kepada Bang Ed dan seluruh orang yang pernah berjibaku membangun Dekade dari lapangan. Kepada wartawan, fotografer, editor dan seluruh tim yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Kepada para narasumber. Kepada pemerintah, lembaga dan mitra yang pernah memberikan kepercayaan.

Dan terutama kepada pembaca.

Tanpa pembaca, kami hanya menulis. Dengan pembaca, kami menjadi sebuah media.

Dua puluh tahun ternyata cepat sekali. Dari koran dwi mingguan ke media online. Dari dekadepos.com ke dekadepos.id. Dari sebuah logo setengah bola dunia menuju dunia digital yang sekarang tidak lagi mengenal batas.

Banyak yang berubah. Tetapi ada satu hal yang masih sama sejak awal: kami ingin mengabarkan cerita.

Saya tidak tahu apakah 20 tahun dari sekarang Dekade masih akan memakai bentuk yang sama seperti hari ini. Mungkin teknologinya sudah berbeda. Mungkin cara orang membaca berita sudah berubah lagi. Mungkin kita bahkan belum bisa membayangkan seperti apa media pada waktu itu.

Tetapi saya punya satu harapan sederhana.

Semoga ketika hari itu datang, masih ada orang yang membuka Dekade dan berkata:

“Saya mau tahu apa yang terjadi hari ini.”

Kalau itu masih terjadi, berarti perjalanan ini belum selesai.

Dan kalau hari ini Anda masih membaca tulisan ini sampai bagian terakhir, izinkan saya mengatakan sesuatu secara pribadi: terima kasih.

Terima kasih karena selama 20 tahun ini, Anda telah ikut membuat Dekade tetap hidup. Anda mungkin hanya seorang pembaca. Tetapi bagi kami, Anda bukan sekadar angka di statistik kunjungan. Anda adalah alasan mengapa berita terus ditulis.

Selamat ulang tahun ke-20, Dekade.

Dua puluh tahun sudah kita lewati.

Dari kami yang menulis, untuk Anda yang selalu membaca.

Dan untuk 20 tahun berikutnya, mari kita lanjutkan ceritanya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *