Scroll untuk baca artikel
AdvetorialBerita

RASULULLAH SAW SEBAGAI USWAH HASANAH: INSPIRASI MORAL UNTUK MEMBANGUN INDONESIA DAMAI DAN BERKEADABAN

×

RASULULLAH SAW SEBAGAI USWAH HASANAH: INSPIRASI MORAL UNTUK MEMBANGUN INDONESIA DAMAI DAN BERKEADABAN

Sebarkan artikel ini

RASULULLAH SAW SEBAGAI USWAH HASANAH: INSPIRASI MORAL UNTUK MEMBANGUN INDONESIA DAMAI DAN BERKEADABAN

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Setiap bangsa membutuhkan teladan moral untuk menuntun langkahnya. Indonesia, dengan segala keragaman budaya, agama, dan suku bangsa, juga tidak terlepas dari kebutuhan tersebut. Dalam konteks umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, sosok Nabi Muhammad Saw hadir sebagai uswah hasanah, teladan agung yang memberikan inspirasi dalam membangun masyarakat damai dan berkeadaban.

Sejarah mencatat, Rasulullah Saw bukan hanya seorang rasul yang membawa risalah ketauhidan, tetapi juga seorang pemimpin bangsa yang berhasil mengubah masyarakat Arab dari jahiliyah menuju masyarakat madani, adil, makmur dan sejahtera lahir batin serta berkeadilan.

Salah satu bukti nyatanya adalah Piagam Madinah, yang mempertemukan umat Islam, Yahudi, dan berbagai kabilah Arab dalam kontrak sosial yang menekankan keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab kolektif. Nabi berhasil menghadirkan tata kehidupan plural tanpa diskriminasi.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Secara filosofis, keteladanan Rasulullah Saw bertumpu pada akhlak mulia. Beliau menegaskan bahwa misi kenabian adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad).

Prinsip kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin), kejujuran, amanah, musyawarah, serta penghormatan terhadap perbedaan adalah fondasi etika universal. Firman Allah juga menegaskan misi Rasulullah Saw:“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya [21]: 107).

Nilai-nilai ini selaras dengan Pancasila, khususnya kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, serta musyawarah untuk mufakat.

Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar, yaitu berupa polarisasi sosial, intoleransi, serta degradasi etika di ruang publik. Dalam kondisi ini, meneladani Rasulullah Saw menjadi semakin relevan.

Dari Rasulullah, kita belajar tentang dialog dan musyawarah: “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”. (QS. Ali Imran [3]: 159).

Dari Rasulullah, kita belajar tentang keadilan, sebagaimana Allah SWT berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan…”(QS. An-Nisa [4]: 135).

Dari Rasulullah, kita belajar tentang cinta kasih, seperti sabdanya:“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika nilai-nilai ini dihidupkan, Indonesia tidak hanya menjadi rumah bersama yang damai, tetapi juga bangsa yang bermartabat di mata dunia.

Rasulullah Saw adalah cermin akhlak mulia dan uswah hasanah bagi seluruh umat manusia. Dengan meneladani keteladanan beliau secara historis maupun filosofis, Indonesia dapat membangun peradaban yang damai, berkeadilan, dan berkeadaban.

Kini saatnya menjadikan ajaran Nabi bukan sekadar wacana, melainkan inspirasi moral yang hidup dalam tindakan nyata, sehingga Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang dirahmati Allah Swt.

 

*Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh dan Pengurus MUI Kabupaten Lima Puluh Kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *