Di Langit Mengaku Lemah, di Bumi Menebar Rahmah
Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.*
Di zaman ketika jumlah followers sering dijadikan ukuran pengaruh, jumlah likes dianggap simbol keberhasilan, dan unggahan kemewahan dipersepsikan sebagai prestise, manusia seolah hidup dalam sebuah panggung raksasa. Semua berlomba tampil sempurna. Tidak sedikit yang rela berutang demi tampak kaya, memamerkan ibadah demi memperoleh pujian, atau membangun citra agar dipandang berhasil.
Sosiolog Prancis Jean Baudrillard menyebut fenomena ini sebagai society of simulacra, yaitu masyarakat yang lebih sibuk membangun citra daripada merawat realitas. Apa yang tampak lebih dihargai daripada apa yang sebenarnya ada. Di era digital, manusia bukan hanya hidup, tetapi juga “mempertontonkan kehidupan”.
Dalam bahasa populer, fenomena ini dikenal sebagai flexing.
Ironisnya, Islam justru mengajarkan paradigma yang bertolak belakang. Seorang mukmin tidak diperintahkan memamerkan kekuatannya di hadapan manusia, tetapi justru memperlihatkan kelemahannya di hadapan Allah. Ia tidak mencari validasi bumi, melainkan ridha langit.
Karena itu, seorang mukmin sejati adalah pribadi yang di langit mengaku lemah, di bumi menebar rahmah. Allah SWT berfirman:”Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Fathir: 15).
Ayat ini merupakan deklarasi tauhid sekaligus terapi bagi penyakit kesombongan. Sebesar apa pun kekuasaan manusia, setinggi apa pun ilmunya, dan sebanyak apa pun hartanya, semuanya tidak menghapus hakikat bahwa manusia adalah faqîr ilallâh—makhluk yang sepenuhnya membutuhkan Allah.
Budaya modern sering mengidentikkan tangisan dengan kelemahan. Padahal dalam Islam, air mata karena takut kepada Allah adalah kemuliaan. Rasulullah SAW bersabda:”Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.” (H.R. at-Tirmidzi, dinilai hasan oleh para ulama).
Dalam hadis lain beliau bersabda bahwa salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat ialah:”…seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lalu kedua matanya bercucuran air mata.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Perhatikan, bukan air mata yang dipamerkan kepada manusia, melainkan yang jatuh ketika tidak ada seorang pun melihat selain Allah.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dikenal sangat lembut hatinya. Ketika menjadi imam shalat, beliau sering tidak mampu menahan tangis saat membaca Al-Qur’an hingga suaranya terputus-putus.
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sosok yang ditakuti kerajaan Persia dan Romawi, justru menangis ketika membaca ayat-ayat tentang azab. Diriwayatkan bekas air mata tampak di pipinya karena sering menangis pada malam hari.
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu apabila melewati kuburan selalu menangis hingga janggutnya basah. Ketika ditanya mengapa beliau lebih menangis di kuburan daripada ketika mendengar kisah surga dan neraka, beliau menjawab bahwa kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sering menghabiskan malam dalam sujud panjang. Beliau berkata, “Bekal itu sedikit, perjalanan sangat jauh, sedangkan pengawas (Allah) tidak pernah lalai.”
Imam Ahmad bin Hanbal, ketika mengalami fitnah besar tentang doktrin khalq al-Qur’an, tidak mencari simpati publik. Beliau memperbanyak qiyamul lail dan doa. Keteguhan beliau lahir dari kedekatan dengan Allah, bukan dari pencitraan.
Imam an-Nawawi hidup sangat sederhana. Hampir seluruh malamnya digunakan untuk belajar, menulis, membaca Al-Qur’an, dan beribadah. Karya-karyanya hidup hingga kini bukan karena strategi pemasaran, melainkan karena keberkahan keikhlasan.
Hasan al-Bashri pernah berkata:”Seorang mukmin menggabungkan amal baik dengan rasa takut, sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dengan rasa aman.”
Kalimat ini menjadi cermin bahwa semakin tinggi iman seseorang, semakin kecil rasa bangganya terhadap amalnya.
Dari sudut psikologi, manusia memiliki kebutuhan akan penghargaan (esteem needs) sebagaimana dijelaskan Abraham Maslow. Namun, ketika kebutuhan itu tidak diimbangi dengan kedewasaan spiritual, lahirlah ketergantungan terhadap validasi sosial.
Penelitian psikologi juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mendorong perbandingan sosial (social comparison). Seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain yang sebenarnya telah disunting sedemikian rupa agar tampak sempurna. Akibatnya muncul kecemasan, iri hati, rendah diri, bahkan depresi.
Fenomena fear of missing out (FOMO) dan kebutuhan akan pengakuan membuat sebagian orang rela mempertontonkan hampir seluruh aspek kehidupannya. Nilai seseorang diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari siapa dirinya.
Islam memutus rantai ini melalui konsep ikhlas. Ketika orientasi berpindah dari manusia kepada Allah, kebutuhan terhadap pujian manusia semakin berkurang.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Keikhlasan dan tauhid adalah pohon dalam hati. Amal adalah cabangnya, sedangkan buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat.”
Allah menggambarkan Rasulullah SAW dengan firman-Nya:”Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S. Al-Anbiya’: 107).
Bukan sebagai pusat perhatian, bukan pula sebagai pencari popularitas, melainkan sebagai rahmat.
Demikian pula firman Allah:”Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka…” (Q.S. Ali ‘Imran: 159).
Rahmah bukan sekadar belas kasih, tetapi kemampuan menghadirkan rasa aman, keteduhan, keadilan, dan manfaat bagi siapa pun.
Rasulullah SAW bersabda:”Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah penduduk bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.” (H.R. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Hadis ini menghubungkan dua dimensi kehidupan sekaligus: hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia.
Hari ini, sebagian orang menangis di media sosial tetapi tidak pernah menangis dalam sujud. Sibuk mempercantik profil digital, namun lalai memperbaiki profil amalnya di sisi Allah.
Ada yang dikenal jutaan manusia, tetapi belum tentu dikenal para malaikat.
Padahal Allah tidak melihat jumlah pengikut kita, melainkan ketakwaan kita. Sebagaimana Allah SWT berfirman:”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Q.S. Al-Hujurat: 13).
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa penyakit riya’ lebih halus daripada semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam yang gelap. Karena itu, seorang mukmin harus terus-menerus mengoreksi niatnya agar amalnya tidak berubah menjadi sekadar pertunjukan.
Peradaban digital membutuhkan lebih banyak orang yang menebarkan rahmah daripada mereka yang sekadar menebarkan sensasi. Dunia tidak kekurangan orang kaya, tetapi kekurangan orang yang dermawan. Dunia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang bijaksana. Dunia tidak kekurangan figur terkenal, tetapi kekurangan pribadi yang ikhlas.
Seyogyanya kita mengubah orientasi hidup. Bila ingin menangis, menangislah di hadapan Allah. Bila ingin meminta, mintalah kepada Allah. Bila ingin dikenal, cukuplah dikenal oleh langit.
Lalu ketika kembali ke tengah manusia, bawalah wajah yang teduh, lisan yang santun, tangan yang ringan membantu, dan hati yang dipenuhi kasih sayang.
Sebab ukuran kemuliaan bukanlah seberapa sering nama kita disebut manusia, melainkan seberapa sering nama kita disebut dengan kebaikan di hadapan Allah.
Di langit kita mengaku lemah, karena tanpa-Nya kita tidak memiliki apa-apa. Di bumi kita menebar rahmah, karena itulah jejak para nabi, para sahabat, para ulama salaf, dan jalan menuju husnul khatimah. (*)
*Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter.















