MINANG JANGAN HANYA MENANGIS
(Oleh: Teuku Husaini)
Minang bukan sekadar ratapan, bukan pula panggung untuk menyalahkan zaman.
ABS-SBK jangan hanya jadi slogan, indah di bibir, hilang dalam perbuatan.
Tungku Tigo Sajarangan jangan dipajang namanya, sementara anak kemenakan kehilangan arah. Ninik mamak jangan hanya pandai berkata, alim ulama jangan hanya terdengar suaranya, cerdik pandai jangan sibuk menghitung kepentingannya.
Kalau generasi muda mulai menjauh, jangan buru-buru mereka kita tuduh.
Tanyakan pula kepada diri sendiri: di mana kita ketika mereka mencari teladan?
Jangan semua dosa dilempar kepada zaman,
jangan semua salah ditimpakan kepada anak kemanakan.
Sebab pohon yang tumbuh bengkok, perlu dilihat siapa yang menanam, siapa yang merawat, dan siapa yang membiarkannya tumbuh tanpa pegangan.
Minang sedang menangis, benar!
Tetapi air mata tidak cukup menyembuhkan luka.
Musibah jangan dijadikan alasan untuk menghakimi sesama. Bencana bukan tiket untuk memastikan bahwa seseorang sedang dihukum Tuhan.
Agama jangan dipakai sebagai palu, adat jangan dijadikan cambuk, ABS-SBK jangan sekadar tulisan di spanduk dan mimbar.
Ia harus hidup di rumah, hidup di surau,
<span;>hidup di sekolah, hidup di tengah masyarakat.
Kalau perjudian merajalela, lawan dengan ketegasan. Kalau narkoba mengancam anak bangsa, berantas bersama.
Kalau kemiskinan menghimpit, jangan biarkan rakyat berjalan sendirian. Kalau moral mulai runtuh, bangunlah kembali benteng keluarga.
Jangan hanya marah kepada anak muda
karena musik sampai larut malam, sementara korupsi, ketidakadilan, dan kerakusan orang dewasa dibiarkan menjadi tontonan setiap hari. Minang tidak kekurangan orang yang pandai berbicara.
Minang kekurangan orang yang berani memberi teladan. Mubes boleh digelar.
Musyawarah boleh dipanggil. Spanduk boleh dibentangkan. Pidato boleh bergema sampai langit. Tetapi setelah semua selesai, apa yang berubah?
Jangan sampai Tungku Tigo Sajarangan
hanya sibuk mencari siapa yang salah,
sementara rumah gadang kehidupan terus terbakar perlahan Mari kita selamatkan agama dan adat, bukan dengan saling menuding, tetapi dengan kembali kepada keteladanan. Sebab Minangkabau tidak akan diselamatkan oleh suara yang paling keras, melainkan oleh hati yang paling tulus
dan tangan yang benar-benar bekerja.
Minang boleh menangis, tetapi jangan menyerah.
Minang boleh terluka, tetapi jangan kehilangan marwah. Dan Minang boleh berbeda pandangan, namun jangan sampai kehilangan persaudaraan. (*)






















