Scroll untuk baca artikel
Berita

Kekurangan Air, Petani Beralih Tanam Jagung 

×

Kekurangan Air, Petani Beralih Tanam Jagung 

Sebarkan artikel ini

Payakumbuh, Dekadepos.id

Sejumlah petani di Kelurahan Sungai Durian dan Parik Muko Aia Kecamatan Lampasi Tigo Nagari (Latina) Kota Payakumbuh beralih menanam jagung akibat kekurangan atau kesulitan mendapatka air sejak beberapa bulan terakhir, peralihan menanam jagung dari tanam padi itu dilakukan agar petani tetap bisa menghasilkan dan lahan mereka tetap digarap.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Namun kondisi tersebut dinilai tidak maksimal, sebab harga jual jagung yang kembali turun diharga Rp. 6000 per kilogram dinilai belum sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga mereka berharap kedepannya harga jual kembali naik, minimal di harga Rp. 7000.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah petani di lahan pertanian mereka di Kecamatan Latina.

” Iya, kami beralih menanam jagung sejak beberapa bulan terakhir karena kekurangan atau kesulitan mendapatkan air untuk lahan pertanian,”ucap Petani Jagung bernama Amri, Senin 6 Juli 2026.

Ia juga mengatakan, ditengah kesulitan mendapatkan air, petani merasa terbantu dengan harga murah atau turunnya harga pupuk bersubsidi sejak beberapa bulan lalu.

” Kami cukup terbantu dengan turunnya harga pupuk bersubsidi, kedepannya kami berharap untuk mendapatkan pupuk bersubsidi lebih mudah, dan tidak hanya melalui kelompok tani. Biasanya harga pupuk bersubsidi Rp. 125000, kini turun jadi Rp. 92000 per karung isi 50 kilogram untuk jenis pupuk NPK.”tutupnya.

Sementara petani lainnya di Kelurahan Sungai Durian mengatakan bahwa penurunan harga jual jagung terjadi baru-baru ini.

” Harga jual jagung hari ini turun, biasanya  mencapai Rp. 6500 hingga Rp. 7000, namun saat ini kurang dari Rp. 6000, ini terjadi dalam dua pekan terakhir,”ucap Masril didampingi Safnil.

Ia berharap kedepannya harga jagung kembali naik, minimal diharga Rp. 7000 per kilogram.

” Idealnya harga jual jagung kami harapkan bisa diangka Rp. 7000 perkilonya, jagung kami jual untuk kebutuhan pakan ternak ayam di sekitar sini,”tambahnya.

Meski harga jual jagung turun, namun belum berpengaruh besar pada pendapatan, sebab mereka mengaku sangat terbantu dengan turunnya harga pupuk bersubsidi.

” Petani sangat terbantu dengan turunnya harga pupuk bersubsidi, namun kalau bisa yang tidak ikut bergabung dalam kelompok tani (Keltan) juga bisa terbantu dalam mendapatkan pupuk bersubsidi dengan mudah.”harapnya.

Sebelumnya diberitakan, harga pupuk bersubsidi turun per tanggal 22 Oktober 2025. Harga pupuk subsidi jenis Urea dijual sebesar Rp90 ribu per karung isi 50 kilogram, sedangkan pupuk NPK turun dari Rp115 ribu menjadi Rp92 ribu per karung. Penurunan harga ini diharapkan dapat meringankan beban petani dan meningkatkan produktivitas lahan mereka. (Edw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *