Bukittinggi, Dekadepos.id
Kabut asap mulai menyelimuti Kota Bukittinggi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan sebaran asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera dan mulai berdampak terhadap kondisi udara serta aktivitas masyarakat.
Selain diduga berkaitan dengan sebaran asap Karhutla di sejumlah wilayah Sumatera, kondisi udara di Bukittinggi juga perlu dicermati seiring adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Material vulkanik berupa abu yang terbawa angin berpotensi memengaruhi kualitas udara di wilayah yang berada dalam jalur sebaran. Untuk itu, diperlukan pemantauan dan verifikasi lebih lanjut dari instansi terkait guna memastikan kontribusi abu vulkanik terhadap kondisi udara di Bukittinggi.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bukittinggi. Ketua Umum HMI Cabang Bukittinggi, Ahmad Zaky, menyatakan keprihatinan atas memburuknya kondisi udara dan meminta Pemerintah Kota Bukittinggi bersama instansi terkait segera memperkuat langkah mitigasi.
Ahmad Zaky menilai kabut asap tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan kenyamanan masyarakat, tetapi merupakan persoalan kesehatan publik yang membutuhkan respons cepat dan terukur. Menurutnya, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian khusus.
“Kami mendesak Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Kesehatan, BPBD, dan instansi terkait untuk segera meningkatkan pemantauan kualitas udara, menyampaikan informasi kondisi udara secara berkala dan mudah diakses masyarakat, serta menyiapkan langkah mitigasi apabila kondisi semakin memburuk,” ujar Ahmad Zaky, Senin (7/9/2026).
HMI Cabang Bukittinggi juga mendorong pemerintah menyiapkan layanan atau posko kesehatan di lokasi yang dianggap rawan apabila dampak kesehatan akibat kabut asap meningkat. Selain itu, pemerintah diminta memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait langkah perlindungan diri, seperti penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan.
Menurut Ahmad Zaky, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam penanganan kondisi tersebut. Pemerintah diminta memastikan masyarakat memperoleh informasi kualitas udara yang transparan dan berbasis data sehingga dapat mengetahui kondisi lingkungan secara objektif dan mengambil langkah pencegahan secara tepat.
“Pemerintah perlu memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan berbasis data mengenai perkembangan kualitas udara. Jangan sampai masyarakat hanya mengetahui kondisi udara dari kabut yang terlihat, sementara data yang menjadi dasar untuk menentukan langkah perlindungan tidak tersampaikan dengan baik,” katanya.
Ia juga menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai faktor yang memengaruhi kondisi udara saat ini, termasuk kemungkinan pengaruh sebaran asap Karhutla maupun material abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Yang paling penting adalah masyarakat mendapatkan informasi yang benar. Apakah kondisi ini dipengaruhi asap Karhutla, abu vulkanik, atau faktor lainnya, semuanya harus dijelaskan berdasarkan data dan hasil pemantauan instansi yang berwenang,” ujar Ahmad Zaky.
Di sisi lain, Kabid Kominfo HMI Cabang Bukittinggi, Muhammad Ridho Ilahi, mengimbau masyarakat turut berperan dalam mencegah kondisi udara semakin memburuk.
Ridho meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara semakin buruk dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun aktivitas pembakaran terbuka lainnya yang dapat menambah pencemaran udara.
“Ini saatnya kita sama-sama menjaga lingkungan. Jangan menambah masalah dengan melakukan pembakaran yang dapat memperburuk kondisi udara. Mari jaga Bukittinggi tetap sehat dan udara yang sejuk,” ujar Ridho.
HMI Cabang Bukittinggi juga mendorong adanya sinergi antara Pemerintah Kota Bukittinggi, TNI-Polri, fasilitas kesehatan, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, serta elemen masyarakat lainnya dalam menghadapi potensi dampak kabut asap.
Menurut Ridho, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar penanganan tidak hanya bersifat reaktif ketika kondisi memburuk, tetapi juga mencakup edukasi, pemantauan, mitigasi, dan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan berlanjutnya paparan asap maupun material partikulat di udara.
“Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah, TNI-Polri, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan elemen masyarakat lainnya dalam melakukan edukasi maupun aksi tanggap terhadap kondisi kabut asap di Bukittinggi,” ungkapnya.
HMI Cabang Bukittinggi berharap langkah antisipasi dapat dilakukan sejak dini mengingat sebaran asap Karhutla dari sejumlah wilayah Sumatera masih berpotensi memengaruhi kualitas udara di daerah lain, sementara aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga perlu menjadi perhatian dalam pemantauan kondisi atmosfer dan kualitas udara.
HMI meminta pemerintah tidak menunggu hingga kondisi semakin memburuk untuk mengambil langkah mitigasi. Pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi kepada masyarakat, perlindungan kelompok rentan, serta koordinasi lintas sektor dinilai perlu dilakukan secara simultan.
Hingga berita ini diturunkan, kabut masih terlihat di sejumlah kawasan Kota Bukittinggi dan jarak pandang terpantau mengalami penurunan. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengikuti informasi resmi pemerintah dan instansi terkait, serta mengambil langkah perlindungan apabila kondisi kualitas udara semakin memburuk. (Arm)






















