SIJUNJUNG, dekadepos.id- Di tengah alam hijau Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, berdiri sebuah kawasan yang tak hanya mempesona, tetapi juga menyimpan jejak sejarah bumi berumur ratusan juta tahun.
“Silokek harus kita rawat dan jaga,” demikian disampaikan Pendiri Utama Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB), Nof Hendra melalui pesan WhatsApp kepada awak media di Padang, Minggu (17/05/2026).
Kawasan yang dimaksud adalah Geopark Silokek, salah satu geopark nasional yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Barat sekaligus aset geologi Indonesia yang sangat bernilai.

Geopark Silokek berada di wilayah Kecamatan Sumpur Kudus dan Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung dengan luas mencapai sekitar 130 ribu hektare. Kawasan ini memiliki warisan geologi berupa batuan sedimen, tebing karst, gua alami, hingga aliran sungai yang terbentuk sejak era purba bumi.
Berbagai penelitian menyebutkan sebagian batuan di kawasan ini berasal dari Era Paleozoikum, terutama periode Carboniferous dan Permian yang diperkirakan berumur antara 299 hingga 359 juta tahun.
Selain nilai geologi, Geopark Silokek juga menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Berdasarkan berbagai sumber dan dokumentasi wisata, kawasan ini menjadi habitat flora dan fauna khas Sumatera. Beberapa di antaranya termasuk satwa langka seperti harimau Sumatera, tapir, siamang, hingga burung enggang.
Nof Hendra menilai Geopark Silokek memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi daerah jika dikelola secara serius dan berkelanjutan.
“Wisata geologi atau geowisata kini memang menjadi salah satu sektor yang berkembang di dunia. Banyak wisatawan tertarik mengunjungi lokasi yang memiliki sejarah pembentukan bumi dan keunikan batuan purba,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan seorang tokoh pengacara muda Minang di Kota Depok, Jawa Barat, Andhika Yudha Perwira, S.H.
Andhika mengatakan bahwa Geopark Silokek jangan sampai rusak. Ia menekankan bahwa keberadaan Geopark Silokek harus dijaga dari ancaman kerusakan lingkungan, eksploitasi berlebihan, dan aktivitas yang dapat merusak warisan geologi.
“Saya juga sepakat bahwa pelestarian kawasan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga seluruh elemen masyarakat agar generasi mendatang nanti masih bisa menyaksikan kekayaan bumi yang sangat langka ini,” tegasnya.
Saran untuk Pengelolaan Ke Depan
Sementara itu, untuk mengoptimalkan potensi Geopark Silokek, Nof Hendra kembali menyampaikan tiga saran utama:
1. Pengelolaan Berbasis Kolaborasi: Pemerintah daerah, masyarakat adat, akademisi, dan pelaku wisata perlu menyusun rencana pengelolaan terpadu yang menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi.
2. Promosi dan Edukasi Publik: Perlu promosi yang kuat baik di tingkat nasional maupun internasional, disertai program edukasi agar masyarakat memahami nilai ilmiah dan sejarah bumi yang terkandung di Silokek.
3. Pemberdayaan Masyarakat Lokal: Masyarakat sekitar harus dilibatkan sebagai pelaku utama dalam sektor pariwisata dan konservasi, sehingga manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh warga nagari.
“West Sumatra is truly proud to have a geopark with such immense historical value. I agree that Silokek Geopark is not just another tourist destination, but an open-air natural laboratory that preserves the long history of the earth’s history, dating back hundreds of millions of years.” (Red: “Sumatera Barat memang patut berbangga memiliki kawasan geopark dengan nilai sejarah bumi yang luar biasa besar. Saya sepakat Geopark Silokek bukan sekadar destinasi wisata biasa, tetapi laboratorium alam terbuka yang menyimpan kisah panjang perjalanan bumi sejak ratusan juta tahun silam.”), ujar aktivis pecinta lingkungan dan pegiat media sosial Indonesia ini.
Ia juga meyakini, dengan pengelolaan yang baik, promosi yang kuat, dan kesadaran bersama untuk menjaga kelestariannya, Geopark Silokek berpotensi menjadi destinasi wisata kelas dunia sekaligus simbol kebanggaan Ranah Minang di mata nasional maupun internasional.
Sebagai penutup, Nof Hendra memohon dukungan dan doa dari semua unsur masyarakat, para perantau, insan pers, TNI-POLRI, dan pemerintah daerah di Sumatera Barat demi kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan Musyawarah Besar (MUBES) Forum Dinamika Sumatera Barat (FDSB) yang akan digelar di Kota Padang pada hari Sabtu, 12 September 2026. (DS/rel)















