Scroll untuk baca artikel
BeritaPemerintahanPolitik

Etika Komunikasi Nabi Muhammad SAW: Menyelaraskan Public Speaking dan Public Hearing untuk Indonesia

×

Etika Komunikasi Nabi Muhammad SAW: Menyelaraskan Public Speaking dan Public Hearing untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini

Etika Komunikasi Nabi Muhammad SAW: Menyelaraskan Public Speaking dan Public Hearing untuk Indonesia

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dalam dunia modern, kemampuan berbicara di depan publik (public speaking) sering dianggap sebagai kunci kepemimpinan. Namun, satu keterampilan lain yang tak kalah penting kerap dilupakan: seni mendengarkan (public hearing). Kedua hal ini sejatinya bukan hanya aspek teknis komunikasi, tetapi juga bagian dari etika kepemimpinan. Rasulullah Muhammad SAW telah memberi teladan bagaimana berbicara dengan hikmah sekaligus mendengar dengan penuh empati.

Rasulullah dikenal sebagai sosok yang mampu menyampaikan pesan dengan kata-kata sederhana, jelas, dan menyentuh hati. Al-Qur’an bahkan menegaskan: “Dan sampaikanlah (wahai Muhammad) dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125).

Beliau tidak berbicara berlebihan. Setiap kata ditimbang, tidak meninggikan suara kecuali saat menyampaikan peringatan, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Inilah inti dari public speaking Nabi: komunikasi yang membangun, bukan merendahkan.

Keistimewaan Rasulullah bukan hanya pada cara beliau berbicara, tetapi juga mendengarkan. Beliau memberi ruang kepada sahabat, bahkan anak kecil, untuk menyampaikan pendapat. Saat menerima kritik, Nabi tidak tersinggung. Sebaliknya, beliau mendengar dengan penuh perhatian, kemudian menanggapi dengan bijaksana.

Peristiwa di Perang Uhud menjadi contoh nyata. Meski awalnya Nabi berpendapat bertahan di Madinah, beliau tetap mendengar suara mayoritas sahabat yang ingin keluar menghadapi musuh. Keputusan akhirnya diambil melalui musyawarah, bukan keputusan sepihak. Inilah etika public hearing dalam kepemimpinan.

Di Indonesia, komunikasi politik sering kali timpang. Banyak pemimpin mahir berpidato, tetapi enggan mendengar aspirasi rakyat. Public speaking dijadikan alat pencitraan, sementara public hearing hanya formalitas. Akibatnya, demokrasi kehilangan ruh kebersamaan.

Keteladanan Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan. Berbicara itu penting, tetapi mendengar jauh lebih menentukan arah kebijakan. Dengan mendengar, seorang pemimpin menyerap aspirasi dan merasakan denyut kehidupan rakyatnya. Dengan berbicara yang benar, ia memberi arah, motivasi, dan visi bersama.

*Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh dan Program Magister Manajemen (S2) Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi.

Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang meneladani etika komunikasi Rasulullah SAW. Pemimpin yang mampu berbicara dengan kejujuran dan hikmah, sekaligus mendengar dengan hati dan empati. Hanya dengan keseimbangan antara public speaking dan public hearing, demokrasi Indonesia akan berakar kuat dan menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat. (*)

 

* Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh dan Program Magister Manajemen (S2) Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *