Scroll untuk baca artikel
AgamaDakwah

MENGUNDANG PERTOLONGAN ALLAH

×

MENGUNDANG PERTOLONGAN ALLAH

Sebarkan artikel ini

MENGUNDANG PERTOLONGAN ALLAH

Oleh: Asep Ajidin

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Dalam hidup, manusia sering terjebak dalam keyakinan bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan kerja keras semata. Padahal, sejarah panjang manusia membuktikan bahwa ada saat-saat ketika semua daya terasa tidak cukup, semua rencana tidak berjalan, dan semua jalan tampak buntu. Di sinilah konsep “mengundang pertolongan Allah” menemukan relevansinya, bukan sekadar ungkapan religius, tetapi kebutuhan eksistensial manusia yang paling mendasar.

Mengundang pertolongan Allah bukan berarti menunggu keajaiban tanpa usaha. Justru sebaliknya: ia adalah perpaduan indah antara ikhtiar manusia, kerendahan hati, dan sensitivitas spiritual. Pertolongan Allah datang bukan kepada orang yang pasif, tetapi kepada orang yang bekerja keras sambil merendahkan hati.

Sejarah keagamaan memberi gambaran yang sangat jelas bahwa pertolongan Allah selalu tersedia, tetapi tidak untuk semua. Ia tidak turun kepada Firaun meski ia berkuasa, tidak turun kepada Qarun walaupun ia kaya, tidak turun kepada kaum ‘Aad meski mereka merasa paling kuat di zamannya. Mereka gagal bukan karena kurang harta atau kekuatan, tetapi karena kesombongan.

Sebaliknya, pertolongan Allah turun kepada Nabi Musa yang terjepit, Nabi Yunus yang terperangkap dalam gelap, dan Nabi Muhammad SAW ketika terdesak dalam Gua Tsur. Pertolongan itu datang ketika mereka mengakui ketidakberdayaan manusia dan bersandar sepenuhnya kepada Allah.

Inilah pelajaran historisnya: pertolongan Allah tidak mengenal status sosial, tetapi mengenal keikhlasan dan kerendahan hati.

Secara filosofis, manusia adalah makhluk yang tidak lengkap. Kita memiliki akal, tetapi akal tidak menjangkau semua. Kita punya tenaga, tetapi tidak selamanya kuat. Kita mampu merencanakan, tetapi tidak bisa menjamin hasil.

Al-Ghazali menyebut manusia sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sandaran. Begitu manusia merasa dirinya “sudah cukup”, ia tertutup dari pertolongan Tuhan. Tetapi saat ia menyadari keterbatasannya, justru di situlah pintu pertolongan terbuka.

Dengan kata lain, mengundang pertolongan Allah berarti menghidupkan kesadaran bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Masyarakat modern dibangun dengan logika persaingan: siapa yang bekerja lebih keras, dialah yang menang. Namun realitas lapangan tidak selalu demikian. Banyak orang yang rajin, disiplin, dan cerdas, tetapi tetap diuji dengan kesulitan. Banyak pula yang hidup sederhana tetapi diberikan jalan rezeki yang tak terduga.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak bergerak dengan rumus matematika saja. Ada variabel tak terlihat yang berperan: barakah, kemudahan, ketenangan hati, dan jalan keluar yang tidak terduga.

Mengundang pertolongan Allah dalam konteks sosial berarti berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap menerima bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya milik kita. Ini melahirkan jiwa yang rendah hati, tetapi tetap optimis. Tidak cepat putus asa, tetapi juga tidak arogan.

Al-Qur’an tidak hanya berisi janji, tetapi juga mekanisme bagaimana pertolongan Allah bekerja. Dalam banyak ayat disebutkan bahwa pertolongan Allah turun kepada tiga golongan, yaitu pertama, kepada orang yang bertakwa:”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah memberikan jalan keluar.” Takwa bukan sekadar takut, tetapi meletakkan Allah sebagai pusat pertimbangan. Kedua, kepada orang yang sabar:”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Kesabaran bukan pasif, tetapi konsisten dalam kebaikan meski berat. Dan ketiga, kepada orang yang bertawakal setelah berusaha. Nabi bersabda:“Ikatlah unta itu, lalu bertawakallah.”

Pertolongan Allah turun kepada yang menggabungkan ikhtiar dan doa. Dengan kata lain, pertolongan Allah diundang oleh perilaku, bukan hanya permintaan.

Banyak orang salah memahami konsep pertolongan Allah. Mereka berharap tanpa bergerak, meminta tanpa bekerja, dan berdoa tanpa disiplin. Pola pikir ini justru menjauhkan seseorang dari pertolongan Allah.

Islam sangat keras mengecam kemalasan. Nabi berkata, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
Pertolongan Allah bukan untuk mereka yang menghindari usaha, tetapi untuk mereka yang “habis-habisan” berjuang lalu mengakui keterbatasan dirinya. (*)

*Dai, Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *