Scroll untuk baca artikel
AgamaBeritaDakwah

Traveling: Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Tapi Jalan Ilmu, Jiwa, dan Peradaban

×

Traveling: Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Tapi Jalan Ilmu, Jiwa, dan Peradaban

Sebarkan artikel ini

Traveling: Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Tapi Jalan Ilmu, Jiwa, dan Peradaban

Oleh: H. Farhan Alfaruq Ajidin, Lc.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di era modern, traveling kerap direduksi menjadi sekadar rekreasi—pelarian sesaat dari rutinitas. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, traveling adalah jalan panjang pembentukan diri: mengasah akal, menyehatkan jiwa, memperluas empati sosial, dan mendekatkan manusia kepada Tuhan.

Ada kisah yang tidak tercatat dalam buku sejarah besar, tetapi hidup dalam realitas hidup anak bangsa. Penulis yang lahir dari dusun kecil di Sumatera Barat, memulai pendidikan dasar (SD) di dua daerah berbeda, melanjutkan SLTP di wilayah lain dalam tanah Minangkabau—sebuah fase awal yang sudah memperkenalkan makna perpindahan, adaptasi, dan ketahanan diri.

Perjalanan itu berlanjut ke Pulau Jawa: menempuh SLTA dan Diploma Dua (D2) di Provinsi Jawa Barat—bahkan di kabupaten yang berbeda. Ini bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi latihan sosial dan psikologis: memahami budaya baru, membangun relasi, dan menegosiasikan identitas diri.

Puncaknya, perjalanan intelektual membawa langkah kaki ke dunia internasional: menempuh pendidikan S1 di Al-Azhar University, salah satu pusat keilmuan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Dan perjalanan itu belum berhenti. Saat ini, penulis tengah melanjutkan pendidikan pada jenjang magister (S2) dalam bidang Pendidikan Agama Islam di sebuah perguruan tinggi lain—sebuah fase lanjutan dari rihlah ilmiah yang terus berproses.

Dari dusun kecil, langkah itu menembus peradaban global dan kini kembali menapaki kedalaman ilmu.

Apa yang dialami bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi Islam. Para ulama terdahulu telah lama menjadikan perjalanan (rihlah) sebagai jalan utama menuntut ilmu.

Seperti Ibnu Battuta yang menjelajahi berbagai negeri untuk memahami dunia, atau Imam Al-Ghazali yang melakukan perjalanan panjang demi menemukan hakikat ilmu dan spiritualitas.

Perjalanan bukan sekadar mobilitas, tetapi metode epistemologi, yaitu cara memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung.

Kini, ketika menetap di Arab Saudi dan telah mengunjungi berbagai negara di Timur Tengah, Afrika, serta beberapa negara Asia Tenggara, perjalanan itu menemukan maknanya yang lebih dalam.

Setiap negeri menghadirkan pelajaran tersendiri, misalnya di Timur Tengah mengajarkan akar peradaban dan spiritualitas. Sedangkan di Afrika memperlihatkan keteguhan hidup di tengah keterbatasan. Sementara di Asia Tenggara menunjukkan keberagaman budaya dalam kedekatan geografis.

Traveling dalam fase ini bukan lagi sekadar belajar ilmu formal, tetapi belajar kehidupan itu sendiri.

Perjalanan lintas daerah dan negara itu membentuk adaptasi tinggi terhadap perubahan, kemudian kecerdasan sosial lintas budaya, dan ketahanan mental dalam menghadapi ketidakpastian, serta membentuk pola pikir terbuka (open-mindedness).

Inilah yang dalam psikologi modern disebut sebagai growth through experience—pertumbuhan melalui pengalaman langsung.

Semua perjalanan itu adalah tafsir hidup atas firman Allah SWT:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ

“Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan…”
(Q.S. Al-‘Ankabut: 20).

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا

“Maka tidakkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami…”
(Q.S. Al-Hajj: 46).

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(H.R. Muslim).

Perjalanan menjadikan bumi sebagai kitab terbuka dan pengalaman sebagai tafsirnya.

Dari dusun kecil hingga dunia internasional, perjalanan ini mengajarkan satu hal:
manusia tidak dilahirkan untuk diam, tetapi untuk bergerak, belajar, dan bertumbuh.

Traveling bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah cara pandang. Bukan sekadar melihat dunia, tetapi memahami kehidupan.

Kisah perjalanan ini menegaskan bahwa traveling bukan kemewahan, tetapi kebutuhan—terutama bagi mereka yang ingin menjadi manusia yang utuh.

Dari Sumatera Barat ke Jawa Barat, dari Indonesia ke Mesir, hingga menetap di Timur Tengah dan menjelajah berbagai negara—ditambah dengan ikhtiar melanjutkan studi magister—semua itu bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi perjalanan intelektual, sosial, dan spiritual yang berkelanjutan.

Traveling, sejatinya sebagai jalan ilmu, jalan pengalaman, dan jalan kedewasaan. Dan hakikatnya jalan menuju Tuhan, sebab pada akhirnya,
setiap langkah yang ditempuh dengan niat mencari makna,
akan selalu menemukan arah pulang, menuju jalan kebenaran. (*)

Alumni Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) No.99 Rancabango, Garut dan Alumni Program S1 Al-Azhar University, Cairo, Mesir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *