Scroll untuk baca artikel
Berita

Pacu Jawi di Batu Balang, Tradisi Minangkabau yang Jadi Magnet Wisatawan ‎

×

Pacu Jawi di Batu Balang, Tradisi Minangkabau yang Jadi Magnet Wisatawan ‎

Sebarkan artikel ini

Lima Puluh Kota, dekadepos.id

Olahraga tradisional Pacu Jawi kembali digelar di Nagari Batu Balang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Ajang yang sarat nilai budaya Minangkabau ini dilaksanakan oleh anak nagari Batu Balang di Jorong Koto Kociak pada 29–30 September 2025, bertempat di Sawah Tobek Godang, bersebelahan dengan Masjid Jamik Batu Balang.

‎Kepala Jorong Koto Kociak, Zambasri Dt. Simulie Nan Panjang, mengatakan masyarakat setempat berkomitmen menjadikan Pacu Jawi sebagai daya tarik wisata.

‎ “Kami ingin ajang ini menjadi magnet agar masyarakat datang ke Koto Kociak, karena kita punya gelanggang pacu jawi sawah yang memadai dan tempat duduk penonton yang strategis,” jelasnya.

‎Panitia juga telah mengundang penggemar Pacu Jawi dari berbagai nagari di Kecamatan Harau dan Kota Payakumbuh untuk ikut meramaikan.

‎Salah seorang panitia sekaligus juri, Syafrianto alias Anto dari Koto Nan Godang Payakumbuh, menjelaskan bahwa Pacu Jawi tidak hanya bernilai hiburan, tetapi juga bernilai ekonomi.

‎ “Jika seekor sapi mampu juara dalam kelas yang diikutinya, maka harga jual sapi tersebut akan meningkat signifikan. Banyak penggemar yang rela membayar mahal untuk sapi juara,” ungkapnya.

‎Dalam ajang ini diperlombakan beberapa kelas, yakni kelas 3, kelas 1, dan kelas Boko. Perlombaan digelar sore hari, mulai pukul 16.00 WIB hingga menjelang Magrib. Selain tanggal 29–30 September, kegiatan ini juga dijadwalkan berlanjut pada 6–7 Oktober 2025 serta 13–14 Oktober 2025.

‎Sementara itu, seorang penggemar Pacu Jawi asal Nagari Payobasuang, Kota Payakumbuh, Pak Fa’i (76 tahun), menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang tetap lestari meskipun zaman terus berubah.

‎“Pacu Jawi sudah ada sejak zaman penjajahan. Kondisi politik apa pun tidak mempengaruhi, masyarakat selalu menggelarnya untuk hiburan dan kebanggaan,” ujarnya.

‎Pak Fa’i juga mengajak generasi muda untuk terus melestarikan olahraga khas Minangkabau ini.

‎“Bagi anak kemenakan dan cucu kita kaum milenial, mari kita rawat Pacu Jawi sebagai warisan budaya. Selain menghibur, ini juga mendatangkan wisatawan dan memperkenalkan nagari kita ke dunia luar,” tutupnya.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *