MENGENDALIKAN NAFSU DENGAN QUWWATUN RABBANIYYAH
Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
Dalam diri manusia terdapat kekuatan besar yang sering kali menentukan arah hidupnya, yaitu nafsu. Nafsu bukanlah sesuatu yang selalu buruk, tetapi jika dibiarkan liar tanpa kendali, ia bisa menyeret manusia jatuh pada kehinaan. Para ulama menyebutkan ada tiga kekuatan nafsu yang berbahaya bila dibiarkan berkuasa, yaitu: pertama, Quwwatun Bahimiyah, ini adalah kekuatan kebinatangan dalam diri manusia, yaitu dorongan syahwat perut dan kemaluan. Bila tak dikendalikan, ia bisa melahirkan kerakusan, ketamakan, hingga perbuatan zina.
Kedua, Quwwatun Sab’iyah, yaitu kekuatan kebuasan. Ia membuat manusia mudah marah, beringas, suka menindas, membenci, dan menzalimi sesama. Sifat ini sering terlihat dalam konflik, permusuhan, dan kekerasan. Adapun yang ketiga, Quwwatun Syaithaniyah, berupa kekuatan setan yang mendorong manusia untuk menipu, berbohong, riya, hasad, sombong, dan menolak kebenaran. Kekuatan ini lebih halus, bekerja lewat bisikan yang menggoda hati.
Al-Qur’an menggambarkan tentang manusia yang tunduk pada tiga kekuatan ini sebagai makhluk yang bisa jatuh lebih rendah dari binatang:”Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan: 44).
Meski demikian, Allah tidak membiarkan manusia tanpa penolong. Allah memberikan Quwwatun Rabbaniyyah, suatu kekuatan ketuhanan dalam diri manusia. Inilah kekuatan iman, akal yang tunduk pada wahyu, dan cahaya hati yang terhubung dengan Allah.
Dengan quwwatun rabbaniyyah, manusia mampu mengendalikan bahimiyah, sab’iyah, dan syaithoniyah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:”Seorang mujahid sejati adalah orang yang berjihad melawan nafsunya untuk taat kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Sejarah para sahabat Nabi memberikan pelajaran nyata tentang bagaimana menundukkan nafsu dengan kekuatan rabbaniyyah, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq mengalahkan bahimiyah dengan hidup sederhana, dan Umar bin Khattab menundukkan sab’iyah dengan keadilan dan keberanian. Sedangkan Utsman bin Affan mengendalikan syahwat dengan rasa malu yang tinggi. Sementara Ali bin Abi Thalib menaklukkan kesombongan dengan ilmu dan ketawadhuan.
Mereka bukanlah manusia tanpa nafsu, tetapi mereka mampu menjadikan nafsu sebagai hamba, bukan tuan.
Kemenangan terbesar bagi seorang manusia bukanlah ketika menaklukkan musuh di medan perang, melainkan ketika ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri.
Kehidupan modern hari ini justru semakin memperlihatkan betapa berbahayanya nafsu bila tak dikendalikan. Syahwat dipasarkan bebas, amarah merajalela di media sosial, dan tipu daya sering mengelabui banyak orang. Di sinilah pentingnya menghidupkan quwwatun rabbaniyyah dalam diri berupa iman, zikir, ilmu, dan amal shalih.
Dengan begitu, manusia bukan hanya mampu mengendalikan dirinya, tetapi juga menghadirkan kedamaian bagi lingkungan. Sebab, orang yang menang melawan dirinya, akan lebih bijak dalam menghadapi orang lain dan dalam menyikapi setiap peristiwa yang menimpanya. (*)
Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Provinsi Sumatera Barat.















