LISAN PEMIMPIN DAN RESAH RAKYAT: REFLEKSI DARI KETELADAN RASULULLAH SAW
Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
Dalam kehidupan berbangsa, ucapan pemimpin adalah cermin kepribadian sekaligus arah kompas masyarakat. Lisan seorang pemimpin bukan sekadar suara pribadi, melainkan amanah publik yang bisa menentramkan atau meresahkan rakyat.
Belakangan ini, kita menyaksikan bagaimana ucapan para pemimpin di negeri ini sering kali menimbulkan kegaduhan, memicu keresahan, bahkan berujung demonstrasi di jalanan. Fenomena ini mengingatkan kita untuk kembali meneladani Rasulullah Muhammad Saw, pemimpin agung yang tutur katanya selalu membawa kedamaian.
Filsuf Yunani, Socrates, pernah berpesan, “Bicaralah, maka aku akan mengenalmu.” Ucapan mencerminkan isi hati dan pikiran seseorang. Dalam konteks kepemimpinan, lisan adalah representasi moral, intelektual, dan visi seorang pemimpin. Karena itu, Rasulullah Saw menegaskan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim). Diam lebih mulia daripada ucapan yang menimbulkan keresahan dan perpecahan.
Sejarah mencatat, Rasulullah Saw adalah pemimpin yang selalu menimbang kata. Saat Fathu Makkah, beliau berhadapan dengan orang-orang Quraisy yang dahulu memusuhinya. Dengan kuasa penuh untuk membalas, beliau justru berkata lembut: “Pergilah kalian, kalian bebas.” Satu kalimat singkat itu menghapus dendam berabad-abad, melebur rasa takut, dan mengikat kembali persaudaraan. Di sinilah terlihat bahwa lisan seorang pemimpin bisa menjadi perekat persatuan, bukan bara perpecahan.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga ucapan. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70).
Bahkan ketika Musa dan Harun diperintahkan berdakwah kepada Fir’aun, Allah menegaskan: “Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha [20]: 44).
Jika kepada penguasa zalim saja diwajibkan kelembutan lisan, apalagi kepada rakyat yang dipimpin dengan amanah. Rasulullah Saw pun memperingatkan: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang diridhai Allah, tanpa ia sangka Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah, tanpa ia sangka ia terjerumus ke dalam neraka.” (HR. Bukhari).
Rakyat yang gelisah akibat ucapan pemimpin bukanlah tanda kekuatan, melainkan rapuhnya komunikasi publik. Pemimpin harus menyadari tiga hal penting, pertama: berbicara dengan kehati-hatian. Setiap kata pemimpin bisa memengaruhi jutaan jiwa. Kedua, menimbang manfaat dan mudarat ucapan. Kata-kata yang sembrono bisa memicu kegaduhan dan hilangnya kepercayaan, dan ketiga: menjadikan kejujuran dan kelembutan sebagai prinsip komunikasi. Retorika boleh indah, tetapi kejujuran dan empati jauh lebih bermakna.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang lisannya menyejukkan, bukan membakar. Dalam masyarakat yang mudah tersulut isu, ucapan bijak adalah kunci stabilitas bangsa.
Rasulullah Saw mencontohkan bagaimana lisan dapat menjadi instrumen dakwah, perekat persatuan, dan sumber kedamaian. Sebaliknya, ucapan yang tidak terukur hanya melahirkan keresahan dan perpecahan. Pantaslah kita mengingat sabda beliau: “Tidak ada sesuatu yang lebih banyak memasukkan manusia ke dalam neraka selain hasil dari lisannya.” (HR. Tirmidzi).
Sudah saatnya para pemimpin negeri ini menahan diri, berbicara dengan hati, dan belajar dari akhlak Rasulullah Saw. Dengan begitu, lisan pemimpin tidak lagi menjadi sumber keresahan rakyat, tetapi cahaya yang menuntun bangsa menuju persatuan dan kedamaian.
*Dosen STIH Putri Maharaja Payakumbuh, Wakil Ketua PW Persatuan Islam (PERSIS) Provinsi Sumatera Barat.















