Payakumbuh, Dekadepos.id
Dua proyek besar Embung bernilai Milyaran rupiah di Luak Limapuluh (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota) dinilai masyarakat sebagai proyek gagal, sebab keberadaan embung sebagai penampung air itu tak memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya pertanian.
Mirisnya, kondisi kedua embung yang dibangun dengan uang rakyat itu, seperti dibiarkan tak terawat, kini dipenuhi rerumputan dan semak belukar. Sementara air yang seharusnya mengenang didalam embung tak terlihat layaknya embung-embung sesuai fungsinya.
Kondisi tersebut telah terjadi beberapa tahun pasca selesai dibangun. Terbaru, kondisi memiriskan terlihat di Embung Lurah Rawang di Kelurahan Aua Kuniang Kecamatan Payakumbuh Selatan. Embung dengan luas genangan 0,59 Hektare dan Volume tampungan 28,483 M3 yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Sumatera V Provinsi Sumatera Barat itu tak memberikan manfaat bagi masyarakat.
” Kalau untuk manfaat air embung bagi masyarakat tidak ada, tapi kalau manfaat embung untuk jalan ada, embung kan fungsinya untuk menampung air, tapi ini tidak ada air yang ditampung,” ucap Petani bernama Zulbadri, Kamis sore 7 Agustus 2025.
Lebih jauh ia mengatakan, karena tidak ada air didalam embung, sehingga keberadaan embung untuk pertanian tidak dirasakan manfaatnya atau mubazir.
” Tidak ada kolam ikan, persawahan yang dialiri air dari embung itu, sehingga saya kira (keberadaan) embung mubazir, tidak ada manfaatnya sampai sekarang,” tambah mantan Direktur PDAM Kabupaten Limapuluh Kota itu.
Menurut Zul Badri, debit air masuk ke embung Lurah Rawang tak lebih dari 2,5 liter per detik, sehingga tidak akan tergenang dalam embung.
” Sedikit banyak saya tahu terkait persoalan air, air yang akan dimanfaatkan itu (untuk embung) jelas sumbernya, ini debit air masuk ke embung Lurah Rawang tak lebih dari 2,5 liter per detik, sehingga tidak akan tergenang dalam embung, berapa yang mau dimanfaatkan, apa yang mau dibikin dengan embung yang sumber airnya sebanyak itu,” ujarnya.
Lebih jelas ia mengatakan bahwa,passca selesai dibangun, ia tidak pernah melihat air mengenang di embung tersebut sesuai fungsinya.
” Sepengetahuan saya tidak, ada paling paling banyak 10 ribu liter air didalam itu.” Tutupnya.
Embung Lurah Rawang diketahui dibangun beberapa tahun lalu dengan dana mencapai 6 Milyar lebih.
Sebelumnya diberitakan, dibangun dengan dana Mencapai Milyaran rupiah, Embung Talago di Jorong Sikabu-Kabu Nagari Sikabu-Kabu Tanjuang Haro Padang Panjang (SITAPA) Kecamatan Luhak Kabupaten Limapuluh Kota tak memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama untuk pertanian. Sebab Embung yang tanahnya dari hibah masyarakat itu digadang-gadang akan berdampak banyak untuk masyarakat, namun kenyataannya kosong melompong.
Kondisi embung yang berada Nagari Wisata dibawah Kaki Gunung Sago itu, saat ini sangat memperihatinkan, bendungan yang semestinya digenangi air, tak berisi air seperti yang diharapkan. Bahkan kondisi jalan masuk serta sekitar kawasan bendungan dipenuhi semak belukar, menandakan keberadaan bendungan tak seperti yang diharapkan.
Dua buah papan informasi terkait bendungan yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air SNVT Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Sumatera V jga dipenuhi ilalang berduri. Termasuk merek embung yang ada di pintu masuk, juga tak bisa dilihat, sebab dikelilingi semak belukar.
Walinagari SITAPA, Nofrizal saat dikonfirmasi terkait embung di Nagarinya itu, membenarkan bahwa embung tersebut tidak memberikan manfaat bagi masyarakat di Nagarinya, sebab Embung tersebut tak berisi air dan tidak mengaliri lahan pertanian.
” Iya, bendungan dari Proyek Balai yang dilaksanakan di Nagari kita memang kondisinya sangat memprihatikan karena kondisinya kering. Pemanfaatannya yang secara teknis juga tidak ditindaklanjuti secara langsung oleh Balai, jadi embung itu kondisinya hari ini memang kering,” ucapnya, Kamis sore 7 Agustus 2025.
Lebih jauh Nofrizal menegaskan, pasca dibangun embung yang tujuannya untuk Konservasi penampungan air serta sesuai visi di Nagari SITAPA untuk pengembangan Pariwisata, namun dalam pelaksanaannya tidak selesai.
” Dalam pelaksanaannya, realisasinya tidak selesai, ada beberapa project yang selesai, diantaranya taman, sehingga yang hari ini baru sekedar tempat penampungan air,” tambahnya.
Ia juga mengatakan, pasca selesai dibangun beberapa tahun lalu dan tidak banyak memberikan manfaat, pihak Nagari telah beberapa kali menyurati/berkoordinasi dengan Balai untuk program lanjutan.
” Kita telah beberapa kali berkoordinasi dengan pihak Balai untuk program lanjutan. Pemerintah Nagari tidak berani mengontak-atik bendungan dengan luas sekitar 1,5 Hektare itu karena milik Balai.” Tutupnya.
BAMUS MINTA APARAT PENEGAK HUKUM LAKUKAN PENYELIDIKAN
Sementara Ketua Badan Musyawarah (BAMUS) Nagari SITAPA, Eka Ridhaldi Alka, meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun tangan, sebab uang rakyat Milyaran rupiah dinilai tidak bermanfaat banyak untuk masyarakat.
” Bagi kami BAMUS Nagari SITAPA, sederhana saja, harusnya uang rakyat yang dipakai bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kebaikan, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kalau Pembangunan embung yang Milyaran didalam hutan terbuang seperti itu, ini pekerjaan siapa yang salah, siapa yang bermain,” ucapnya.
Ia juga berharap Aparat Penegak Hukum (APH) turun tangan melakukan Penyelidikan, sehingga uang rakyat tidak dipergunakan hanya untuk kepentingan, namun tidak ada dampak yang dirasakan masyarakat SITAPA.
” Kita siap membantu pihak terkait, Penegak Hukum kami harapkan bisa turun tangan melakukan penyelidikan, kami siap membantu, sebab Nol dampak embung bagi masyarakat.” Tegasnya. (Edw)















