Limapuluh Kota, Dekadepos.id
Meski sejumlah Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat telah menghentikan Proses Belajar Mengajar (PBM) disekolah dan mengalihkan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), namun di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh yang berbatasan dengan Provinsi Riau masih belum melakukan hal tersebut, meski kabut asap semakin tebal pada pagi dan sore hari.
Pemerintah Daerah atau Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota menurut Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha belum meliburkan sekolah karena kualitas udara/bencana kabut asap di daerah dengan 79 Nagari dan 13 Kecamatan tersebut masih belum bisa ditetapkan jadi tanggap darurat.
” Iya, kita terkait penanganan kabut asap, kita rutin menggelar rapat dengan FORKOMPINDA, tentu penentuan status itu berkaitan dengan rapat bersama FORKOMPINDA. Dalam rapat yang digelar, kita belum patut menaikan status ini (kabut asap) ke status tanggap darurat,”ucap Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha didampingi Kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Friddia Vala, Rabu sore 16 September 2026 di Nagari Kayu Tanam saat penyerahan bantuan bagi korban kebakaran.
Wakil Bupati juga menambahkan, kualitas udara di Kabupaten Limapuluh Kota saat ini masuk dalam kategori tidak sehat untuk yang sensitif.
” Kualitas udara kota saat ini masuk dalam kategori tidak sehat untuk yang sensitif, tapi kita tetap pantau terus. Jika nanti masuk dalam kategori berbahaya, kita akan ambil sikap untuk meliburkan anak-anak kita,”ucap Politisi PKS tersebut.
Meski belum meliburkan PBM disekolah, Wakil Bupati ingatkan peserta didik dan masyarakat untuk melakukan pencegahan dampak buruk kabut asap.
” Sesuai Edaran yang telah dikeluarkan bapak Bupati, kita menyerukan mengunakan masker bagi anak-anak disekolah dan masyarakat, serta mengurangi aktivitas diluar, namun kalau ada anak-anak (peserta didik) yang mulai merasakan dampak kabut asap, boleh meliburkan diri dengan meminta izin ke sekolah.”tutup mantan Sekretaris DPD Partai PKS Kota Payakumbuh itu.
PIHAK SEKOLAH MINTA PEMBAGIAN MASKER
Meski Pemerintah Daerah belum mengambil sikap untuk meliburkan PBM disekolah, pihak sekolah berharap adanya pembagian masker ke sekolah-sekolah, sehingga bisa dilakukan pencegahan, sebab masih banyak peserta didik yang belum menggunakan masker saat ke sekolah.
” Upaya yang kita lakukan disekolah adalah menganjurkan penggunaan masker saat ke sekolah, kemudian mengurangi kegiatan diluar, tapi kita lihat masih banyak anak-anak yang tidak menggunakan masker. Kita berharap adanya pembagian masker untuk mengedukasi,”ucap kepala UPTD SDN 02 Simalangang, Wiwing Dewi Marni, Kamis pagi 17 September 2026.
Selain berharap pembagian masker disekolah, Wiwing juga berharap agar kedepannya Pemerintah Daerah meliburkan PBM, jika kabut asap mulai berdampak pada peserta didik.
” Kedepannya kami berharap agar PBM disekolah diliburkan dan belajar secara daring jika kabut asap mulai berdampak, sebab ada beberapa orang yang sakit.”tutupnya.
WALI MURID BERHARAP PBM DI SEKOLAH DILIBURKAN
Harapan agar Pemerintah Daerah segera meliburkan PBM disekolah karena kondisi kabut asap diungkapkan seorang wali Murid di Kecamatan Akabiluru Kabupaten Limapuluh Kota, ia menyebutkan kabut asap sangat tebal.
” Saya ingin menyampaikan kondisi terkini di wilayah kami yang berbatasan langsung dengan Riau. Sejak beberapa hari terakhir, terutama pada pagi hari (pukul 06.00–09.00 WIB), kabut asap dari kebakaran hutan/lahan di Riau masuk sangat tebal hingga jarak pandang terbatas dan udara terasa sesak. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan siswa-siswi kami jika tetap dipaksa berangkat sekolah pagi-pagi buta. Sebagai orang tua dan warga yang peduli masa depan anak bangsa, kami memohon kebijaksanaan Bapak/Ibu untuk.”ucap wali murid bernama Hendra.
Ia juga mengatakan, Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah gangguan pernapasan akut pada anak-anak kita, sekaligus menjaga semangat belajar mereka tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan. (Edw)






















