Limapuluh Kota, Dekadepos.id
Meski hingga saat ini jalan utama masuk ke Kantor/gedung baru Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota di Jorong Ketinggian (Belakang GOR Singa Harau) Nagari Sarilamak Kecamatan Harau masih tutup, Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota tetap melakukan peresmian gedung baru satu lantai itu.
Namun akses jalan masuk melewati bagian samping kiri belakang gedung atau melewati perumahan, Bupati Limapuluh Kota saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melakukan penindakan/penangkapan terhadap pelaku penghalangan masuk ke kantor baru Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sebab menurutnya Negara tidak boleh kalah.
” Iya, pertama, akses pintu masuk harus kita bebaskan, sekalipun ada kita dengar ada penghalangan ke pintu gerbang depan, itu harus kita tuntaskan secepat mungkin,”ucap Bupati usai melakukan peresmian.
Lebih jauh ia mengatakan, untuk gedung Pemerintah tidak boleh dihalangi, Negara (Pemerintah) tidak boleh kalah.
” Gedung Pemerintah tidak ada yang bisa menghambatnya, Negara tidak boleh kalah oleh segelintir orang, kita APH meminta untuk melakukan penangkapan, kita juga akan diskusi dengan Bapak Kapolres terkait permasalahannya.”tutup Bupati.
Sementara saat memberikan sambutan dihadapan ratusan tamu dan kepala OPD, Bupati menyebutkan bahwa sektor pendidikan merupakan sektor penting dalam mewujudkan masyarakat dan berdaya saing.
” Peresmian kantor baru ini kita harapkan dapat pelayanan, sektor pendidikan merupakan sektor penting, tidak hanya kunci dalam mewujudkan masyarakat cerdas, namun juga berdaya saing,”ucap Bupati.
Lebih jauh Bupati menekankan, peresmian Pemakaian Kantor baru Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang juga dihadiri mantan Kepala Dinas Pendidikan itu, ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan pita di pintu masuk dan dilanjutkan dengan peninjauan.
Sebelumnya diberitakan, penutupan akses jalan masuk menuju kantor baru Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dilakukan warga Jorong Ketinggian Kecamatan Harau yang mengaku kecewa tanah mereka tak diakui, sebagai bentuk protes, mereka menutup jalan masuk menggunakan tanah timbunan,
selain kendaraan roda empat/jalan tersebut juga sulit dilalui oleh kendaraan roda dua. (Edw)















