Payakumbuh, Dekadepos.id
Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Ilson Cong dt. Mongguang mengaku kecewa dengan tidak adanya pernyataan sikap dari Pemerintah Daerah maupun dari Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) terkait polemik peresmian Balai Adat Sigamak-Gamak Nagari Hulu Aia Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota yang terjadi Senin 21 September 2026 lalu, sebab dalam peresmian tersebut, dua orang warga Riau yang merupakan bapak dan anak diduga tidak beragama Islam ikut hadir dan menggunakan pakaian kebesaran adat Minangkabau, diantaranya Saluak dan Baju kebesaran tokoh adat di Minangkabau.
Menurut Politisi Partai Nasdem itu, Pemerintah harus bersikap tegas terkait persoalan yang terjadi, sebab jika tidak bersikap, tidak tertutup kemungkinan hal tersebut akan kembali terjadi. Sebab selama ini, Adat Basandi Syara-Syara Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
” Saya kecewa tidak ada pernyataan sikap dari LKAAM dan pemerintah daerah sampai saat ini, harus ada penolakan dari kita, jantan sampai terjadi berulang lagi, sebab ada indikasi seperti itu, saya rasa ini tidak terlepas dari permainan panitia, kalau tidak ada penolakan, saya yakin dia dikukuhkan, saya yakin benar. Karena ada penolakan, maka dirubah sedikit,”ucap mantan anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota itu dalam kegiatan Baronggok yang digelar di Kawasan Payolinyam Kecamatan Payakumbuh Utara, akhir pekan ini.
Ilson juga menambahkan, polemik yang terjadi harus segera diluruskan, jangan karena bantuan, semua menjadi rusak.
” Jangan karena uang bantuan, rusak kita semua, ini perlu kita luruskan, rusak adat kalau tidak ada jalan keluar dari persoalan ini, artinya rusak ABS-SBK gara-gara kita,”tambahnya.
Ilson juga menegaskan bahwa orang Minangkabau adalah orang yang beragama Islam, apalagi yang bergelar Niniak Mamak.
” Selama ini kita tahu, ABS-SBK, orang Minangkabau adalah orang Islam, apalagi yang bergelar Niniak Mamak, berbeda dengan orang Sumatera Barat yang tidak semua Islam. Dia ini orang mana, agamanya apa, yang bergelar Niniak Mamak adalah orang Islam. Saya sempat berdebat dengan Wakil Bupati, ia menyebutkan gelar dua orang Riau tersebut dari sakai yang mengaku berasal dari Pagaruyung. Saya sempat katakan, orang Pagaruyuang tidak ada orang Sakai setahu saya, entahlah sejarah dahulu,”tegasnya.
Ilson Cong juga menyebut bahwa baju yang digunakan dua warga Riau, Tukiran dt. Bandaro Putiah dan Edbert dt. Bandaro Mudo, adalah baju Minangkabau, baju Niniak Mamak dan bukan baju Melayu.
” Itu baju kita, baju Minangkabau, baju Niniak mamak, bukan baju Melayu. Sebelumnya saya juga sempat menghubungi Walinagari, disebutkan bahwa berita yang beredar adalah bohong, tapi ketika lihat 2 orang tersebut gunakan baju Minangkabau lengkap, saya kaget.”tutupnya.
Ilson juga mengaku telah menghubungi Ketua LKAAM Provinsi Sumatera Barat terkait Polemik tersebut.
” Saya juga kontak ketua LKAAM Provinsi, ini tidak bisa dibiarkan, rusak adat kita. Harus lahir suatu rekomendasi atau keputusan terkait hal ini.”tutupnya. (Edw)






















