Scroll untuk baca artikel
AgamaBeritaDakwahPendidikan

JIWA YANG RINDU PULANG: ANTARA DETIK DUNIA DAN HISAB AKHIRAT

×

JIWA YANG RINDU PULANG: ANTARA DETIK DUNIA DAN HISAB AKHIRAT

Sebarkan artikel ini

JIWA YANG RINDU PULANG: ANTARA DETIK DUNIA DAN HISAB AKHIRAT

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia kerap merasa kehabisan waktu, tetapi jarang benar-benar bertanya: ke mana waktu ini membawa kita?

Detik demi detik berlalu, kalender terus berganti, usia bertambah tanpa bisa ditawar. Namun di balik kesibukan itu, ada suara sunyi yang sesekali muncul di relung batin: kerinduan untuk pulang. Sebuah kerinduan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi terasa nyata dalam kegelisahan jiwa.

Secara filosofis, manusia adalah makhluk yang hidup dalam keterbatasan waktu. Para filsuf menyebut manusia sebagai makhluk temporal—makhluk yang eksistensinya ditentukan oleh waktu. Kita lahir dalam satu titik, berjalan di antara dua ketidakpastian, dan berakhir pada sebuah kepastian bernama kematian.

Setiap detik dunia yang berlalu sejatinya bukan hanya perjalanan ke depan, tetapi juga perjalanan menuju akhir. Dalam Islam, akhir ini bukan kehampaan, melainkan kepulangan.

Sejarah manusia menunjukkan bahwa kegelisahan terhadap waktu dan kematian adalah kegelisahan universal. Bangsa-bangsa besar membangun monumen, menulis kitab, dan menciptakan simbol keabadian karena sadar bahwa hidup terlalu singkat. Namun sejarah juga membuktikan bahwa peradaban sebesar apa pun akhirnya runtuh. Yang bertahan bukanlah bangunan, melainkan nilai dan amal. Al-Qur’an menegaskan pelajaran sejarah ini: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Dalam perspektif Islam, dunia tidak pernah diposisikan sebagai tujuan akhir. Ia adalah jalan, bukan terminal. Allah SWT berfirman,

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Al-Hadid: 20).

Ayat ini sering disalahpahami seolah Islam menolak dunia. Padahal yang dikritik bukan dunia itu sendiri, melainkan cara manusia terjebak dan tertipu olehnya. Dunia menjadi berbahaya ketika ia melalaikan manusia dari akhirat.

Secara sosiologis, masyarakat modern justru semakin menguatkan ilusi keabadian dunia. Ukuran keberhasilan direduksi pada produktivitas, materi, dan popularitas.

Manusia dihargai sejauh ia terlihat sibuk dan berguna secara ekonomi. Media sosial mempercepat ritme hidup, tetapi sering kali mengosongkan makna. Banyak orang hidup serba ada, tetapi merasa hampa. Banyak yang tampak berhasil, tetapi jiwanya letih.

Kelelahan ini bukan semata kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial. Jiwa bekerja terlalu keras mengejar dunia, tetapi lupa arah pulang.

Di sinilah kerinduan spiritual muncul. Kerinduan untuk berhenti sejenak, merenung, dan bertanya: apakah hidup ini hanya tentang mengejar target, atau ada tujuan yang lebih besar?

Islam membaca kegelisahan ini sebagai fitrah. Jiwa manusia memang berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Al-Qur’an mengingatkan dengan bahasa yang sangat personal:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai” (QS. Al-Fajr: 27–28). Ayat ini menggambarkan kepulangan bukan sebagai ketakutan, melainkan sebagai perjumpaan penuh ketenangan.

Rasulullah SAW pun mengajarkan sikap hidup yang sadar arah. “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir” (HR. Bukhari). Orang asing tentu tidak menjadikan persinggahan sebagai kampung halaman. Ia singgah, beristirahat secukupnya, lalu melanjutkan perjalanan. Hadis ini bukan ajakan menjauh dari dunia, melainkan ajakan untuk tidak terikat secara berlebihan.

Antara detik dunia dan hisab akhirat, manusia sejatinya sedang mengumpulkan bekal. Setiap waktu adalah peluang, setiap peristiwa adalah ujian.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kelak manusia akan dimintai pertanggungjawaban secara detail: “Pada hari itu manusia diberitakan tentang apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya” (QS. Al-Qiyamah: 13). Yang ditanya bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga apa yang sengaja ditinggalkan.

Kesadaran akan hisab seharusnya melahirkan etika hidup. Orang yang sadar akan pulang tidak akan berlaku zalim, meski punya kuasa. Ia tidak akan curang, meski ada peluang. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak mengorbankan nilai. Dunia tetap dijalani, bahkan dibangun, tetapi dengan orientasi akhirat.

Kerinduan pulang tidak menjadikan seseorang pasif. Justru sebaliknya, ia melahirkan tanggung jawab sosial. Orang yang rindu pulang ingin tiba dengan hati yang bersih dan amal yang bermanfaat. Ia ingin pulang tanpa meninggalkan luka, tanpa membawa dosa yang disengaja, dan tanpa menelantarkan amanah.

Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan singkat dengan tujuan yang pasti. Detik dunia akan terus berdetak, apakah kita sadar atau tidak. Tahun akan berganti, usia akan berkurang, dan catatan amal akan terus terisi. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan pulang, tetapi bagaimana kita pulang.

Jika jiwa mulai rindu pulang, itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda kesadaran. Kesadaran bahwa hidup bukan sekadar bertahan, melainkan mempersiapkan perjumpaan. Sebab pulang yang sejati bukan sekadar berakhirnya hidup, melainkan tibanya jiwa di hadapan Tuhan dengan hati yang tidak tersesat oleh gemerlap dunia. (*)

* Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *