Scroll untuk baca artikel
Berita

Bupati Limapuluh Kota Rela Bermalam di Rumah Warga, Menyusuri Debu Galugua Hingga Masuk ke Lorong Jembatan Rusak

×

Bupati Limapuluh Kota Rela Bermalam di Rumah Warga, Menyusuri Debu Galugua Hingga Masuk ke Lorong Jembatan Rusak

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ridho Muldi Putra  (dekadepos.id)

Tanggal 18 Agustus 2025, sehari setelah peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, suasana Nagari Sialang masih penuh dengan gema kemerdekaan. Saya beruntung mendapat kesempatan mendampingi Bupati Limapuluh Kota, H. Safni, selama dua hari penuh dalam perjalanan panjangnya ke daerah paling ujung kabupaten, Nagari Galugua.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Hari pertama, Bupati Safni menghadiri perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar masyarakat Kapur IX dan dipusatkan di Nagari Sialang. Senyum hangatnya menyapa warga, dari anak-anak yang berlari riang hingga orang tua yang duduk di bawah pohon, larut dalam rasa syukur kemerdekaan. Tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Bupati larut, bukan sekadar hadir.

Malamnya, beliau mengambil keputusan yang jarang dilakukan pejabat sekelasnya, bermalam di rumah seorang tokoh masyarakat Nagari Sialang. Rumah itu menjadi tempat istirahat sang bupati dan istri tercintanya, Ny. Asra Yanti Safni. Rombongan yang cukup besar membuat suasana semakin hangat. Bahkan, karena ramainya pengikut, beberapa di antara kami memilih mandi di sungai yang disebut masyarakat sebagai Pantai Lubna.

Airnya jernih, dingin, dan menyejukkan, berpadu dengan suasana hutan perbukitan yang asri. Sungai itu baru saja dipoles melalui program normalisasi Balai Wilayah Sungai. Di tepian air yang beriak tenang, kami duduk bersama masyarakat, tertawa, bercengkerama. Malam itu terasa bukan seperti rombongan pejabat dan rakyat, melainkan keluarga besar yang menyatu.

Esok pagi, perjalanan sesungguhnya dimulai. Kendaraan 4×4 berjejer, siap menembus jalan panjang menuju Galugua. Warga setempat berulang kali mewanti-wanti, “Kalau musim hujan, jangan harap bisa lewat. Jalan bisa berubah jadi lautan lumpur.” Syukurlah, musim kemarau membuat jalan masih bisa dilalui, meski berdebu pekat. Debu itu menutupi jarak pandang, hingga mobil di depan hanya samar terlihat. Sesekali kendaraan tersendat, roda berputar di tanjakan yang licin. Perjalanan ini seakan memberi gambaran nyata betapa beratnya keseharian masyarakat Galugua ketika ingin menjangkau dunia luar.

Begitu memasuki pintu nagari, sebuah jembatan kayu menyambut kami. Tanpa ragu, Bupati Safni turun dari kendaraan. Ia menunduk, memperhatikan kondisi kayu satu per satu. Jembatan sederhana itu adalah urat nadi penghubung warga, sekaligus gambaran awal betapa pentingnya keberadaan infrastruktur bagi mereka.

Perjalanan berlanjut. Walinagari dan perangkat setempat menyambut dengan hangat, lalu mengajak rombongan ke jorong paling ujung Galugua, titik yang benar-benar jauh dari pusat pemerintahan. Di sana, Bupati kembali berhenti, kali ini di sebuah jembatan beton yang kondisinya mulai retak.

Tanpa sungkan, ia menuruni lorong jembatan. Membungkuk, meraba, memperhatikan dengan seksama. Pemandangan itu membekas di benak saya, seorang bupati, dengan sepatu penuh debu perjalanan, rela masuk ke bawah jembatan demi melihat dengan mata kepala sendiri keadaan yang dihadapi warganya. Bukan laporan di meja, bukan foto di layar, tapi nyata, di hadapan rakyatnya.

Dari jembatan, perjalanan dilanjutkan ke pos pelayanan kesehatan. Bupati sempat prihatin melihat keterbatasan fasilitas, lalu berkata lirih, “Ini harus segera dipikirkan solusinya.” Begitu juga dengan sekolah-sekolah, yang masih butuh dukungan agar anak-anak Galugua tidak tertinggal dalam cita-cita mereka. Namun di balik itu, terlihat pula optimisme, ada tenaga kesehatan yang setia melayani, ada guru-guru yang terus berjuang mendidik, bukti bahwa pemerintah sudah hadir meski masih perlu penguatan.

Bupati Safni tidak datang dengan tangan kosong. Ia memboyong hampir seluruh kepala OPD, mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, hingga Dinas PUPR. Keluhan masyarakat dijawab langsung, satu per satu. Kepala dinas mencatat, berdiskusi, dan memastikan tindak lanjut. Suasana dialog terasa akrab, jauh dari formalitas.

Namun satu persoalan besar tetap ada, akses jalan. Jalan utama menuju Galugua merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Selama ini, berbagai upaya perbaikan sudah dilakukan, namun medan yang berat dan keterbatasan anggaran membuat prosesnya tidak bisa secepat yang diharapkan.

Meski demikian, Bupati Safni menegaskan komitmennya. “Saya akan berusaha mencari cara bagaimana harapan masyarakat ini bisa dikabulkan. Sepulang dari sini, saya akan langsung berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk Balai Pelaksana Jalan Nasional di Padang,” ujarnya dengan suara mantap, meski wajahnya masih dipenuhi debu perjalanan.

Sore itu, debu kembali mengepul di jalan pulang. Namun di hati masyarakat Galugua, tumbuh sebuah keyakinan baru bahwa pemimpin mereka hadir, melihat, mendengar, dan merasakan sendiri. Mereka tidak lagi sekadar nama di peta yang jauh dari pusat pemerintahan, tetapi bagian penting dari Limapuluh Kota yang terus diperhatikan.

Dan saya pun menyadari, dalam dua hari itu, saya tidak hanya menjadi saksi perjalanan seorang bupati. Saya melihat bagaimana kepemimpinan sejati diwujudkan dengan sederhana, dengan kesungguhan, dan dengan keberanian turun langsung ke tengah rakyat.

Perjalanan ini juga memberi gambaran nyata tentang Galugua, jembatan kayu, jalan berdebu, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang masih berkembang. Semua itu kini sudah tersampaikan langsung ke hadapan pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Harapan masyarakat pun kini semakin besar.

Galugua telah memberi pesan jelas, seorang pemimpin tidak cukup hadir di podium, tapi harus berani hadir di jalan terjal rakyatnya. Bupati Safni sudah melangkah, dan dengan dukungan pemerintah provinsi serta pusat yang terus berupaya, publik menaruh harapan bahwa langkah itu akan berbuah perubahan nyata bagi kampung yang lama terpinggirkan. Semoga! (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *