LIMAPULUH KOTA, dekadepos.id – Beberapa hari menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan dan tibanya Hari Raya Idul Fitri 1447 H tahun 2026, Ranah Minang tercinta, utamanya di Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh-Kabupaten Limapuluh Kota) sudah banyak para perantau yang pulang ke kampung halaman.
Ini terlihat mulai banyaknya kendaraan bernomor atau plat polisi berasal dari berbagai daerah di tanah air, hilir mudik dan bersileweran memadati ruas jalan di Kota Payakumbuh dan pasar-pasar trasidional lainnya yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota.
” Mulai berdatangannya para dunsanak perantau di Ranah Minang, tentu patut kita ucapkan selamat datang kepada dunsanak para perantau dari seluruh nusantara yang telah sampai di kampung halaman,” ujar mantan Bupati Kabupaten Limapuluh Kota, Ir. H. Irfendi Arbi menyampaikan ucapan selamat datang kepada para dunsanak perantau di Ranah Bundo Tercinta.
Dikatakan Irfendi Arbi, kita yang berada di kampung halaman tentu ikut merasakan betapa besarnya kerinduan para perantau terhadap kampung halaman dan bertemu sanak famili, keluarga tercinta, sahabat karib dan teman-teman sepermainan, karena mungkin sudah lama atau bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halaman.
” Pulang ke kampung halaman hakekatnya adalah merawat rindu yang tak pernah pudar. Meski lama meninggalkan kampung halaman, masyarakat Ranah Minang pasti bangga dan cinta kampung halamannya dan rasa cinta itu tetap mengakar, menembus jarak dan tahun. Sepertinya, ada sesuatu yang hilang jika setahun berlalu tanpa kepulangan ke kampung halaman. Pulang adalah menyalakan kembali pelita yang nyaris padam, mengisi ruang kosong dalam hati yang terasa hampa. Setiap perantau pasti akan merindukan rumah emak yang menjadi saksi bisu dari cerita masa kecil, ” ujar Irfendi Arbi.
Dikatakan Irfendi Arbi, bagi para perantau pulang ke kampung halaman adalah sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan kembali jati diri. Artinya, pulang ke kampung halaman adalah momen, di mana setiap orang melepaskan semua atribut jabatan dan peran di kota untuk kembali menjadi seorang anak, seorang adik, atau seorang teman kecil. Selama rindu masih menjadi bagian dari kemanusiaan kita, mudik akan tetap menjadi ritual penyembuh yang paling dinanti, membuktikan bahwa sejauh apa pun kita melangkah, jalan pulang selalu menjadi arah yang paling membahagiakan.
” Tentunya kita berharap, kepulangan para perantau tidak hanya soal hubungan emosional dengan kampung halaman dan namun menjadi modal sosial untuk mendukung pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ada di kampung halaman.” pungkas Irfendi Arbi. (DS)















