Limapuluh Kota, Dekadepos.id
Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota menetapkan Status Tanggap Bencana di Kabupaten Limapuluh Kota pasca terjadinya berbagai bencana di daerah itu, diantaranya bencana banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem di daerah itu. Penetapan itu dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Limapuluh Kota Nomor : 300.2.3/BUP-LK/XI/2025 tanggal 25 November tahun 2025.
Status tanggap darurat bencana itu diberlakukan selama 14 hari terhitung 25 November hingga 8 Desember 2025 dan dapat diperpanjang dan atau diubah sesuai kebutuhan penyelenggaraan penanganan darurat bencana di lapangan.
Sebelumnya sari bencana yang yang ye jadi, puluhan rumah warga di Jorong Aie Angek, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, rusak berat akibat fenomena likuifaksi yang dipicu curah hujan tinggi pada akhir pekan lalu. Bahkan 149 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi setelah satu kawasan permukiman dinyatakan tidak lagi layak huni.
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ahlul Badrito Resha, menyebut bencana hidrometeorologi ini berdampak pada delapan kecamatan, namun tiga wilayah mengalami kerusakan paling parah.
“Ada delapan kecamatan yang terdampak bencana. Namun yang terparah ada di Kecamatan Gunung Omeh, Kecamatan Bukit Barisan, dan Kecamatan Suliki,” ujarnya kepada wartawan, Senin 1 Desember 2025 di Posko Penanggulan Bencana Kabupaten Limapuluh Kota di Ex. Kantor Bupati Limapuluh Kota di Pusat Kota Payakumbuh.
Ia juga menambahkan, kerusakan di tiga kecamatan tersebut berkaitan langsung dengan permukiman dan lahan warga, sehingga penanganan darurat harus difokuskan pada penyelamatan jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar.
“Terhadap ketiga kecamatan ini, kita sudah menjalankan SOP tanggap darurat. Prioritas pertama adalah keselamatan warga. Mereka sudah kita evakuasi, karena ada satu jorong di Aie Angek yang sudah tidak bisa ditempati lagi,” tegasnya.
Para pengungsi saat ini ditampung di Masjid Kenangan, yang ditetapkan sebagai lokasi pengungsian utama. Pemerintah daerah menanggung penuh kebutuhan logistik dan pangan melalui anggaran darurat, dibantu sejumlah donatur.
Wabup Ahlul menjelaskan bahwa pergerakan tanah di Aie Angek dipicu tiga faktor utama: kondisi geologi, curah hujan tinggi, dan topografi perbukitan.
“Secara geologi, tanah di daerah itu memang setiap tahun bergerak. Ditambah curah hujan yang tinggi dan topografi berbukit, air hujan sangat memengaruhi kestabilan tanah. Ini menyebabkan pergerakan tanah hingga rumah warga retak dan bergeser cukup jauh,” paparnya.
Hasil asesmen pemerintah daerah menyimpulkan bahwa kawasan terdampak tidak layak huni. Pemerintah kini mengumpulkan data untuk penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk rencana relokasi bagi warga yang menyatakan kesediaan dipindahkan.
“Alhamdulillah sejak awal kita sudah turun ke lapangan, dan masyarakat bisa kita antisipasi sehingga tidak ada korban jiwa,” tambahnya.
Pemda juga memastikan kebutuhan para pengungsi akan terus dipenuhi hingga proses relokasi dan rehabilitasi dapat dilaksanakan. Masjid Kenangan dipilih sebagai lokasi utama bagi ratusan warga yang terdampak bencana alam. (Edw)















