Hikmah Bukan Bermakna Pasrah
Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
Ada saat ketika hidup berjalan sesuai harapan. Namun, ada pula ketika kenyataan datang berlawanan arah: kehilangan, kegagalan, perpisahan, rezeki yang tertunda, rencana yang berantakan, hingga musibah yang membuat kita bertanya, “Mengapa Allah memberikan semua ini kepadaku?”
Pertanyaan itu manusiawi. Namun, iman mengajarkan cara pandang yang lebih dalam: tidak semua yang kita anggap buruk benar-benar buruk, dan tidak semua yang kita anggap baik benar-benar baik. Manusia hanya melihat peristiwa, sedangkan Allah mengetahui keseluruhan perjalanan.
Al-Qur’an menegaskan dalam Q.S. Ṣād ayat 27:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
Wa mā khalaqnas-samā’a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā(n), żālika ẓannullażīna kafarū, fa wailul lillażīna kafarū minan-nār.
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”
Ayat ini memberi fondasi filosofis bahwa ciptaan Allah tidaklah tanpa tujuan. Alam semesta memiliki keteraturan dan hikmah. Karena itu, kehidupan manusia pun bukan rangkaian kebetulan tanpa makna.
Kita sering menilai kehidupan berdasarkan apa yang tampak. Keberhasilan dianggap nikmat, kegagalan dianggap musibah. Mendapatkan sesuatu disebut keberuntungan, sedangkan kehilangan dianggap kesialan.
Padahal, pengalaman hidup sering membuktikan bahwa penilaian manusia tidak selalu sama dengan hasil akhirnya.
Kita hanya melihat satu halaman, sedangkan Allah mengetahui seluruh buku kehidupan.
Sesuatu yang hari ini membuat kita menangis bisa jadi justru menjadi perlindungan dari kesedihan yang lebih besar. Sesuatu yang tidak kita dapatkan mungkin menyelamatkan kita dari jalan yang keliru. Sebaliknya, sesuatu yang sangat kita inginkan belum tentu menjadi kebaikan jika kita tidak mampu mengelolanya.
Secara psikologis, manusia cenderung menilai berdasarkan informasi yang tersedia saat ini. Iman memperluas perspektif itu. Sebuah peristiwa tidak selalu harus dinilai hanya dari rasa sakit yang ditimbulkannya sekarang, tetapi juga dari pelajaran dan arah yang mungkin dibawanya.
Sejarah para nabi menunjukkan bahwa orang-orang pilihan Allah pun tidak luput dari ujian.
Nabi Ayyub AS menghadapi penderitaan. Nabi Ya’qub AS mengalami perpisahan. Nabi Yusuf AS melewati pengkhianatan, sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara sebelum akhirnya memperoleh kedudukan.
Kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan bahwa makna sebuah peristiwa terkadang baru terlihat setelah perjalanan panjang. Apa yang tampak sebagai kehancuran pada satu tahap kehidupan dapat menjadi jalan menuju kematangan dan kemuliaan pada tahap berikutnya.
Karena itu, kesulitan tidak selalu berarti Allah sedang menjauhkan seseorang. Bisa jadi, kesulitan justru menjadi jalan untuk membentuk kesabaran, keteguhan, kerendahan hati, dan kedewasaan.
Kayu tidak menjadi perahu karena dipuji. Ia menjadi perahu setelah dipotong, dibentuk, dan diproses. Begitu pula manusia.
Ada kesabaran yang lahir dari penantian, keikhlasan dari kehilangan, keberanian dari ketakutan, dan kedewasaan dari pengalaman pahit.
Mengubah Pertanyaan: Dari “Mengapa?” Menjadi “Apa Hikmahnya?”
Al-Qur’an mengingatkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kita, dan boleh jadi kita membenci sesuatu padahal ia baik bagi kita. Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui.
Pesan ini sangat relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Kita ingin segera mengetahui alasan sebuah kegagalan, memahami mengapa doa belum terkabul, dan mendapatkan jawaban atas kehilangan.
Padahal, tidak semua rahasia takdir harus kita pahami sebelum kita belajar menerimanya.
Karena itu, barangkali sudah waktunya mengubah pertanyaan.
Bukan hanya:
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Tetapi:
“Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?”
Pertanyaan pertama mencari sebab. Pertanyaan kedua mencari hikmah.
Di situlah musibah dapat berubah menjadi madrasah kehidupan.
Hikmah Bukan Berarti Pasrah. Inilah bagian penting yang sering disalahpahami. Meyakini bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah bukan berarti pasrah, apalagi membenarkan kezaliman atau menyerah kepada keadaan.
Kemiskinan harus diatasi dengan kebijakan yang adil. Ketidakadilan harus dilawan. Pendidikan yang tertinggal harus diperbaiki. Bencana harus dihadapi dengan mitigasi, kesiapsiagaan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Takdir bukan alasan untuk malas. Justru keyakinan kepada hikmah seharusnya melahirkan etos ikhtiar.
Manusia memang tidak menguasai seluruh hasil, tetapi bertanggung jawab atas usaha, pilihan, dan sikapnya.
Di sinilah tawakal menemukan maknanya: berusaha sekuat tenaga, berdoa sepenuh hati, lalu menyerahkan hasil kepada Allah SWT.
Tawakal bukan berhenti bergerak. Tawakal adalah bergerak dengan keyakinan bahwa hasil akhir berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
Hidup bukan kebetulan, seperti yang Allah SWT Firmankan dalam Surat Ṣād ayat 27 mengajak kita melihat kehidupan dalam perspektif yang lebih luas: alam semesta tidak diciptakan sia-sia.
Jika alam semesta memiliki tujuan, manusia pun demikian. Manusia bukan sekadar makhluk yang lahir, bekerja, mengumpulkan harta, menikmati kehidupan, kemudian mati. Manusia adalah makhluk yang memikul amanah dan akan mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Karena itu, pertanyaan terbesar kehidupan bukan hanya:
“Berapa banyak yang saya miliki?”
Tetapi:
“Untuk apa semua yang saya miliki?”
Bukan hanya:
“Berapa lama saya hidup?”
Melainkan:
“Apa yang saya lakukan selama hidup?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser orientasi hidup dari sekadar memiliki menuju memberi, dari mengejar kesenangan menuju menemukan makna.
Kedewasaan spiritual bukan ketika hidup bebas dari masalah. Kedewasaan spiritual adalah ketika masalah datang, tetapi kita tidak kehilangan Allah.
Kita boleh menangis, tetapi tidak putus asa. Kita boleh kecewa, tetapi tidak berburuk sangka kepada Allah. Kita boleh gagal, tetapi tidak berhenti berusaha. Kita boleh kehilangan, tetapi tidak kehilangan harapan.
Manusia hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan. Allah mengetahui keseluruhannya.
Mungkin hari ini kita sedang berada di halaman kehidupan yang penuh kesedihan. Jangan buru-buru menutup bukunya. Bisa jadi, halaman berikutnya berisi jawaban yang selama ini kita tunggu.
Dan jika jawaban itu belum datang, mungkin Allah sedang memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang kita minta: kesabaran, keikhlasan, keteguhan, kedewasaan, dan kedekatan kepada-Nya.
Hidup yang bermakna bukanlah hidup tanpa luka. Hidup yang bermakna adalah hidup yang mampu mengubah luka menjadi hikmah, ujian menjadi kedewasaan, kegagalan menjadi pembelajaran, dan setiap peristiwa menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah SWT.
Kita mungkin tidak mampu membaca seluruh rahasia takdir. Namun, kita selalu dapat memilih bagaimana menyikapinya.
Maka, teruslah berikhtiar, berdoa, belajar, dan berbuat baik. Sebab boleh jadi, peristiwa yang hari ini kita tangisi adalah halaman yang kelak kita syukuri. Dari sanalah Allah mengajarkan sebuah hikmah yang mungkin tidak akan pernah kita dapatkan melalui jalan yang mudah.
Takdir tidak selalu menjelaskan dirinya hari ini. Namun, waktu, iman, dan kedewasaan sering membuat kita memahami bahwa tidak ada satu pun ketetapan Allah yang benar-benar sia-sia.
Penulis adalah Dai, Akademisi, dan Pemerhati Kebijakan Publik serta Pendidikan Karakter.






















