LIMAPULUH KOTA, dekadepos.id – Menyerap aspirasi di musim efisiensi. Itulah tema yang diusung M. Fajar Rillah Vesky, anggota DPRD Limapuluh Kota, saat melaksanakan reses masa sidang ketiga tahun sidang 2025-2026. Fajar reses dengan menemui masyarakat seni tradisi yang dalam dua tahun terakhir, kurang mendapat sentuhan dari APBD.
Fajar Rillah Vesky yang mantan jurnalis, menemui dua kelompok seni tradisi di perbatasan Kabupaten Limapuluh Kota dengan Kabupaten Tanah Datar. Kelompok seni tradisi yang berkembang dan bertahan di tengah gempuran zaman itu berhimpun di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.

Kelompok seni tradisi yang ditemui Fajar dalam resesnya adalah kelompok tambua tansa Bintang Saiyo. Kelompok yang sudah beberapa kali juara festival ini dilatih Yulmen Atri, S.Pd, alias Armen Koto, alumnus Universitas Negeri Padang. Sedangkan ketuanya adalah Zaki. Adapun anggotanya hampir 40 orang, mayoritas remaja Generasi Z atau Gen Z, kelahiran 1997-2012.
Di Sumatera Barat, apalagi di Limapuluh Kota, tidak banyak kelompok seni tradisi yang anggotanya mayoritas adalah Gen Z, seperti Bintang Saiyo ini. “Di Bintang Saiyo, kami tak sekedar berlatih tambua tansa, bermain talempong, dan menari. Tapi juga menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, setia kawan, dan paling penting, hindari narkoba,” kata Armen.
Armen dan Zaki menyebut, Bintang Saiyo, kini boleh dibilang kelompok tambua tansa yang anggotanya paling banyak di Sumbar bagian Utara “Dan kami, menjadi satu-satunya kelompok tambua tansa yang ada sholawatnya. Di Bintang Saiyo, kami jadikan organisasi milik bersama. Keuangan dan inventaris jelas. Dan kami sangat berharap, dapat sentuhan dari pemda,” kata Armen dan Zaki.
Selain kelompok Bintang Saiyo, Fajar Vesky dalam resesnya juga bertemu Kelompok Randai Cindua Mato. Kelompok ini dulu bernaung dibawah Sanggar Seni Lubuak Putiah pimpinan Yurnanetti, tokoh setempat. Belakangan sanggar itu konsen membangkitkan randai: seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang menggabungkan unsur silat, tari, dan musik.
Kelompok Randai Cindua Mato, selain digawangi Yurnaneti dari Sanggar Seni Lubuak Putiah, juga dilengkapi kepengurusan baru. Pengurus kelompok randai ini diantaranya adalah Alek Dt Paduko Lobiah, Datuak Gindo Sinaro, H.AM. Dt Bandaro Kuniang, Ijun Upiak Umbu, Mendin, Ises, Iyul, Icap Pado, Kamba, Inal Ijuk, dkk. Mereka rutin berlatih sekali seminggu.
Kelompok Randai Cindua Mato terbilang unik. Sebab, para pemain randai yang berkelompok dalam bentuk lingkaran sambil berdendang dan bercengkrama denhan dialog Minang klasik, memiliki usia beragam. Dari bocah usia Sekolah Dasar, hingga para lanjut usia. Para bocah sengaja dilibatkan, untuk mendekatkan mereka dengan seni tradisi.
Menurut H.AM Dt Bandaro Kuniang yang hadir bersama Pj Wali Nagari Tungkar Syafriwan, jauh sebelum Indonesia merdeka, randai Cindua Mato sudah ada di Nagari Tungkar. “Makanya, kita lestarikan terus kesenian ini,” kata H. AM. Dt Bandaro Kuniang dan Datuak Gindo Sinaro, serta Alek Dt Paduko Lobiah.
Disisi lain, Fajar Rillah Vesky berharap, kelompok tambua tansa Bintang Saiyo bersama kelompok randai Cindua Mato, dan kelompok-kelompok seni tradisi lainya di berbagai penjuru Kabupaten Limapuluh Kota, tetap berkarya dan tetap melestarikan seni tradisi. Meskipun minim sekali perhatian dari pemerintah daerah dalam dua terakhir ini disebabkan alasan efisiensi anggaran.
“Ibarat pepatah Minang, walau ka jio-jio patuang. Walau ka angok-angok ikan. Tapi kita berharap, masyarakat seni tradisi, terus berkarya dan berproses kreatif. Meski minim sekali sentuhan pemda, tapi jangan menyerah. Karena saat politik bengkok, dunia hukum diwarnai drama, media sosial banjir fitnah, dan lingkungan kita banyak toxid, maka seni tradisi bisa menjadi penawar nan ampuh,” kata Fajar Rillah Vesky.
Fajar juga memberi catatan kepada Pemkab Limapuluh Kota, bahwa sesuai dengan visi Sakato Bermartabat dan Sakato UnggulPerda RPJMD Limapuluh Kota, maka urusan kebudayaan ke depan, termasuk urusan seni tradisi, mesti diakomodir sebagai kebijakan daerah. Melalui program dan kegiatan yang menggerakan iklim kebudayaan dan kesenian.
“Meski urusan kebudayaan, termasuk urusan masyarakat seni tradisi, bukanlah termasuk SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang wajib disediakan pemda anggaranya. Namun, sentuhan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana, fasilitasi festival, fasilitasi paket seni dan pelatihan, harus tetap diberikan. Biarlah seperti garam dalam makanan. Meskipun sedikit, tapi terasa,” ulas Fajar Rillah Vesky. (DS)















