Tanah Datar, Dekadepos.id
Permintaan Pupuk Kompos Asal Nagari Tanjung Alam Kabupaten Tanah Datar untuk kebutuhan pertanian berbagai Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Barat dan Riau tinggi, tiap pekannya bisa mencapai 10 ton, kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama, sehingga potensi usaha pupuk kompos sangat berdampak pada ekonomi masyarakat.
Beberapa daerah atau Kabupaten dan Kota yang memanfaatkan pupuk kompos asal Kabupaten Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Solok, Pasaman, Padang serta Dumai, Duri, Kampar serta Ujung Batu, bahkan pupuk produksi CV. Sahabat Alam Abadi Lestari itu digunakan untuk pupuk tanaman/pohon di Jalur Tol.
Selain harga yang relatif murah, penggunaan pupuk kompos juga untuk memperbaiki unsur hara tanah dan banyak lainnya.
” Iya, Alhamdulillah untuk permintaan Pupuk Kompos yang kami produksi tiap waktunya terus bertambah, disamping untuk kebutuhan lokal (Sumatera Barat) juga untuk memenuhi kebutuhan/permintaan dari luar Sumatera Barat, terutama Provinsi Riau,”ucap pemilik CV. Sahabat Alam Abadi Lestari, Zaipa, Minggu 31 Mei 2026.
Ibu empat orang anak itu juga menambahkan, saat permintaan tinggi, dalam satu pekan/minggu ia bisa menjual/mengirim pupuk Kompos hingga mencapai 10 ton.
” Untuk penjualan saat ramai bisa mencapai 10 ton per Minggu, penjualan biasanya untuk memenuhi kebutuhan di Kota Payakumbuh, Solok, Pasaman, Padang serta ke Provinsi Riau, bahkan pupuk produksi kita dengan nama pupuk Kompos SAAL pernah untuk pupuk tanaman tol di Riau,”ucapnya.
Menurutnya, selain harga yang relatif murah, banyak petani menggunakan pupuk kompos karena mudah didapatkan serta tidak merusak tanah, mengemburkan tanah dan lainnya.
” Pupuk Kompos kita mengandung unsur hara mikro dan makro, banyak digunakan untuk tanaman atau sayuran, diantaranya untuk sawit, durian , manggis, cabe dan bawang , pinang. Pupuk kompos sangat ramah lingkungan,”jelasnya.
Sementara terkait komposisi yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos itu, Zaipa menyebut menggunakan kohe sapi dan ayam serta dolomit.
” Kita gunakan kohe dari hewan ditambah dolomit dan lainnya,”tambah pria yang tinggal di Jorong Gunuang Nagari Tanjung Alam Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanah Datar itu.
Lebih jauh ia menjelaskan, pupuk Kompos yang ia produksi sangat berbeda dengan pupuk organik, sebab proses produksi atau pengadaan pupuk Kompos tidak melalui/menggunakan formula hasil rekayasa.
” Pupuk kita yang berupa serbuk, tidak melalui atau menggunakan formula hasil rekayasa, artinya pupuk organik dan pupuk kompos sangat jauh berbeda dalam proses produksi/pengadaan.”tukuknya.
Ia juga mengatakan, sebelumnya usaha yang ia rintis sejak tahun 2000 itu pernah akan disiapkan untuk pengadaan pupuk organik dalam memenuhi kebutuhan pupuk organik di Sumatera Barat untuk barang subsidi (pupuk subsidi), namun setelah dilakukan survei oleh pihak Petrokimia didampingi dari pihak Unand Padang, pupuk Kompos tersebut tidak lolos verifikasi.
” Pupuk kompos kita ini pernah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik subsidi di Sumatera Barat, namun tidak lolos verifikasi karena yang diminta adalah pupuk berbentuk butiran/granular, selain itu juga karena proses produksi kita tidak melalui rekayasa, artinya pupuk kita ini adalah pupuk kompos dan bukan pupuk organik.
Sementara seorang petani Cabe di Kabupaten Limapuluh Kota, Adit menyebutkan bahwa pengguna pupuk Kompos dilakukan karena mudah didapatkan, selain itu juga harga relatif murah dibandingkan dengan pupuk lainnya.
” Untuk pupuk, memang kami sering menggunakan pupuk kompos, selain harga yang relatif murah, juga mudah didapatkan serta tidak merusak tanah.”ujarnya. (Edw)















