Scroll untuk baca artikel
Opini

Menembus Batas Kata : Menajamkan Kompetensi Discourse Sejak Kanak-Kanak di Bangku Sekolah Dasar

×

Menembus Batas Kata : Menajamkan Kompetensi Discourse Sejak Kanak-Kanak di Bangku Sekolah Dasar

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rahmat Syukran (Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Sjech M.Djamil D.Jambek Bukittinggi).

Di tengah derasnya arus digital, kita menyaksikan paradoks yang menarik, anak-anak begitu luwes mengekspresikan diri melalui gawai dan media sosial, namun kerap kesulitan saat diminta menyampaikan ide secara runtut dan bermakna dalam interaksi nyata. Fenomena ini bukan sekadar soal kurangnya kosakata atau penguasaan tata bahasa, melainkan lemahnya kemampuan menyusun dan menghubungkan gagasan dalam konteks komunikasi utuh yang dikenal sebagai kompetensi discourse.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Data nasional terbaru dari hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa skor literasi membaca Indonesia berada pada angka 359 poin dan menjadi capaian terendah sejak tahun 2000. Di sisi lain, OECD juga mencatat bahwa banyak murid Indonesia masih mengalami learning loss pasca pandemi, terutama dalam kemampuan memahami dan mengkomunikasikan informasi secara mendalam. (Kompas.com,2023) Pertanyaannya, jika bukan sejak Sekolah Dasar, kapan lagi pondasi kemampuan ini akan dibangun ?

Kompetensi discourse sejatinya bukan konsep yang rumit bagi anak-anak. Ia hadir dalam aktivitas sederhana, seperti: bercerita kembali, berdialog, menyampaikan alasan, hingga memahami maksud tersembunyi dalam sebuah cerita. Bagi murid SD, ini adalah kemampuan mengaitkan satu kalimat dengan kalimat lain sehingga menjadi ide yang utuh dan relevan dengan situasi. Sayangnya, pembelajaran di kelas sering kali masih terjebak pada hafalan dan latihan soal yang minim interaksi. Anak jarang diberi ruang untuk berpikir, berdiskusi, atau bahkan berbeda pendapat secara terarah. Padahal, berbagai pengamat pendidikan menilai bahwa pembelajaran berbasis interaksi dan penguatan literasi komunikasi menjadi kebutuhan mendesak di era Kurikulum Merdeka yang menempatkan murid sebagai subjek aktif dalam proses belajar. (detikedu,2023)

Untuk mengatasi hal ini, pendekatan pembelajaran perlu bergeser ke arah yang lebih Komunikatif dan Kontekstual. Guru dapat memanfaatkan model seperti Task Based Learning melalui kegiatan Role Play, diskusi kelompok kecil, atau presentasi sederhana yang mendorong murid memproduksi bahasa secara alami. Selain itu, teknik bertanya juga memegang peran krusial, pertanyaan terbuka seperti

“Mengapa tokoh itu melakukan hal tersebut ?” jauh lebih efektif dibandingkan pertanyaan tertutup yang hanya memancing jawaban singkat. Menariknya, hasil Asesmen Nasional dan implementasi Kurikulum Merdeka menunjukkan bahwa sekolah yang mulai menerapkan pembelajaran interaktif mengalami pemulihan Literasi dan Numerasi lebih cepat dibandingkan pendekatan konvensional. (Kompas.com,2023) Literasi pun perlu dihidupkan kembali, bukan sekadar membaca teks, tetapi mengajak murid menafsirkan, memprediksi, dan mengaitkan isi bacaan dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Namun, upaya ini tidak akan optimal tanpa dukungan dari rumah. Orang tua memiliki peran strategis dalam membangun lingkungan komunikasi yang sehat mulai dari mendengarkan cerita anak tanpa interupsi, mengajak diskusi ringan, hingga membiasakan anak memberikan alasan atas setiap pendapatnya. Kompetensi discourse tidak tumbuh secara instan, ia adalah hasil dari interaksi yang konsisten dan bermakna.

Pada akhirnya, investasi ini bukan hanya untuk kemampuan berbahasa, tetapi untuk membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, berempati, dan berkontribusi melalui gagasan. Karena sejatinya, anak-anak yang hebat bukan hanya mampu membaca dunia, tetapi juga mampu membicarakan dan mengubahnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *