PAYAKUMBUH, Dekadepos.id — Dibalik deru roda dan gemuruh sorak para penonton di lintasan sepatu roda, berdirilah sosok muda yang penuh semangat dan visi besar. Sosok itu adalah Zulhendra Poetra Chaniago.
Ia bukan sekadar pelatih bersertifikat nasional, melainkan arsitek utama lahirnya Madani Inline Skate, sebuah klub sepatu roda profesional yang tumbuh dari akar kegiatan ekstrakurikuler sekolah biasa menjadi rumah pembinaan atlet yang berprestasi dan berakhlak Qur’ani.
Apa yang dirintis Zulhendra bukanlah jalan singkat. Ketika pertama kali mendapati anaknya mengikuti kegiatan sepatu roda di lingkungan Madani Islamic School, ia melihat potensi yang besar namun belum tergarap maksimal.
“Ini bukan sekadar olahraga main-main.
Sepatu roda adalah olahraga elit-dari segi biaya, teknik, dan karakter pembinanya. Maka sayang jika hanya dijadikan selingan.” ujarnya.
Dari sanalah perubahan dimulai. Ia mengajukan agar kegiatan ini dikembangkan menjadi klub terbuka, yang tak hanya diperuntukkan bagi siswa internal sekolah, tapi juga bagi masyarakat umum.
Tak lama berselang, lahirlah Madani Inline Skate, klub yang berkomitmen tidak hanya membina atlet, tetapi juga membentuk insan.
MANAJEMEN PROFESIONAL, BERNUANSA QURANI
Sebagai pemimpin, Zulhendra dikenal kritis, rapi, dan penuh dedikasi. Ia tak ragu mengevaluasi bahkan mengganti sistem atau sumber daya yang tidak memberikan kontribusi nyata.
Salah satu langkah awalnya adalah mengganti desain logo klub—sebuah simbol perubahan identitas dari sekadar kegiatan tambahan menjadi entitas profesional yang memiliki arah dan identitas kuat.
Selain membenahi internal klub, ia juga memanjakan para orang tua atlet. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas antar anak latihan ke lapangan menggunakan armada sekolah.
“Ini sangat membantu kami sebagai orang tua yang sibuk. Kami merasa dihargai dan dimudahkan.” ujar salah satu wali murid berkomentar.
VISI YANG KOKOH, MISI YANG MENGAKAR
Zulhendra menyusun arah pembinaan klub dengan landasan nilai-nilai Qurani dan pendekatan fitrah genetik. Visi dan misi klub ini menjadi pijakan langkah-langkah besarnya:
Visi: Menjadi klub sepatu roda yang inklusif, berbasis nilai-nilai Qurani, dan mengembangkan potensi fitrah genetik anggota untuk mencapai prestasi optimal, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Misi: 1. Membina anggota secara holistik: fisik, mental, dan spiritual. 2. Menciptakan lingkungan latihan yang inklusif dan beradab. 3. Menyusun program pelatihan profesional berbasis karakter. 4. Mengantar atlet menuju kompetisi lokal, nasional, dan internasional. 5. Menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, ukhuwah, dan dakwah melalui olahraga.
DUKUNGAN YANG MENGALIR DARI BANYAK PIHAK
Ketua Yayasan Garis Pena dan Ketua Perguruan Madani Islamic School menegaskan bahwa, awalnya olahraga ini hanyalah selingan. Namun mereka mengaku tersentuh oleh kegigihan Zulhendra.
“Manajemen yang ia bangun sangat rapi. Bahkan rencana membangun arena indoor kami sambut dengan tangan terbuka. Jika prestasi datang, maka kewajiban kami untuk mendukung juga akan kami tunaikan,” ujar mereka.
Meskipun saat ini para atlet masih di level beginner/Kategori Pemula dan Standar Zulhendra yakin mereka adalah bibit unggul yang sedang ditempa. Ia percaya prestasi adalah buah dari proses yang tekun dan adab yang dijaga.
“Beliau selalu tekankan: prestasi bisa dikejar, tapi akhlak nomor satu.” ujar sejumlah wali murit berpendapat.
IKHTIAR MENYATUKAN GHIRAH DAN KOMPETISI
Salah satu ciri khas Madani Inline Skate adalah penerapan pakaian syar’i di arena latihan dan lomba.
Semua atlet perempuan diwajibkan mengenakan jilbab dan skinsuit khusus dengan tambahan rok. Busana ini bahkan dirancang langsung oleh Zulhendra.
“Saya ragu awalnya, tapi sambutan orang tua luar biasa. Mereka bangga anaknya bisa tampil Islami bahkan dalam kompetisi.” ungkap sekretaris klub, Neni Afrienti.
MY CLUB, MY HOME, MY FAMILY
Di setiap evaluasi, semangat Zulhendra tak pernah padam. Setelah event di Bukittinggi, ia menyampaikan dengan penuh api motivasi: “Madani Inline Skate bukan sekadar klub, tapi rumah kita bersama. Kita didik anak-anak bukan hanya untuk juara, tapi untuk jadi pribadi yang Allah cintai.”
Slogannya yang selalu ia ucapkan: “InsyaAllah, Atlet Madani akan menjadi atlet berprestasi dan berakhlak Qur’ani.”
JEJAK KEPEMIMPINAN DAN KIPRAH SOSIAL
Kepemimpinan Zulhendra bukanlah hal baru. Ia telah lama dikenal sebagai tokoh muda Muhammadiyah. Ia pernah menjadi Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah Payakumbuh dan Limapuluh Kota, dan kemudian menjabat Sekretaris Pemuda Muhammadiyah. Bersama sahabat-sahabatnya seperti Erik Felmadella dan Muslim Azizi, ia bahkan menghidupkan kembali KOKAM Muhammadiyah yang sempat vakum.
Saat ini ia menjabat sebagai General Manager BangSaudagar dan turut mendirikan Koperasi Syariah BMT ASA Nusantara. Namun di tengah kesibukan itu, ia tetap meluangkan waktu untuk hadir, membimbing, dan mengelola Madani Inline Skate secara langsung.
APRESIASI DAN HARAPAN
Ketua Perserosi Kota Payakumbuh menyampaikan apresiasinya terhadap klub ini. “Madani Inline Skate adalah angin segar. Sebuah klub bernuansa Islami yang serius dalam pembinaan dan penanaman nilai. Ini terobosan penting.” ujarnya.
Zulhendra Poetra Chaniago adalah contoh nyata bahwa olahraga tidak harus menjauh dari agama. Justru sebaliknya, olahraga bisa menjadi media yang paling kuat untuk menanam nilai, membangun karakter, dan mencetak prestasi. Di tangannya, sepatu roda bukan hanya alat lomba, tapi alat dakwah.
Madani Inline Skate: Berprestasi di lintasan, bersinar dalam akhlak. (DS)















