Scroll untuk baca artikel
BeritaPolitik

Datuak Safar yang Selalu Menang, Kini Kalah Karena Uang

×

Datuak Safar yang Selalu Menang, Kini Kalah Karena Uang

Sebarkan artikel ini

Datuak Safar yang Selalu Menang, Kini Kalah Karena Uang

Oleh:
M. Fajar Rillah Vesky
Anggota DPRD Limapuluh Kota

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Sebelum pemungutan suara dalam Pilkada 2024 digelar Rabu lalu (27/11/2024), Safaruddin Datuak Bandaro Rajo, tercatat sebagai politisi yang tidak pernah kalah dalam pemilu di Kabupaten Limapuluh Kota. Apapun jenis pemilunya, Safaruddin yang akrab disapa Datuak Safar, selalu menang.

Mula-mula, Datuak Safar yang sekretaris desa, bertarung dalam pemilihan kepala desa di Baruahgunuang. Datuak Safar memenangkan pemilihan tersebut. Tidak sekali. Tapi dua kali. Masing-masing 1983 dan 1988.

Setelah hampir dua periode menjadi kepala desa, Datuak Safar maju dalam pemilihan anggota DPRD Limapuluh Kota pada Pemilu 1992. “Mendiang Bupati Aziz Haily yang mendorong saya untuk nyaleg,” kenangnya.

Begitu nyaleg untuk pertama kalinya, Datuak Safar langsung terpilih menjadi anggota DPRD periode 1992-1997. Sejak itu, karir politik bekas pengembala kerbau dan petani tembakau ini melejit bak mercusuar.

Pada Pemilu 1997, Datuak Safar terpilih lagi menjadi wakil rakyat. Gelombang reformasi yang memaksa Pemilu digelar cepat pada 1999, tetap mengantar Datuak Safar sebagai anggota DPRD sampai 2004. Dengan begitu, sudah lima kali dia memenankan pemilu.

Pada Pemilu 2004, Datuak Safar yang Wakil Ketua DPD Golkar Limapuluh Kota, tak ikut lagi sebagai caleg. Dia banting setiur ke dunia usaha, dengan memimpin CV. Permata Gunung dan Toko Permata Tekstil di Bukittinggi.

Sambil berdagang, Datuak Safar yang awalnya jebolan program belajar paket C (karena semasa kecil hidup susah dan terbentur biaya sekolah), mengambil gelar sarjana hukum. Dengan menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.

Pada Pemilu 2009, dengan sistem suara terbanyak, Datuak Safar kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Tak dinyana, ia meraup 3.632 suara. Tertinggi dari seluruh caleg se-Limapuluh Kota. Setelah caleg terpilih dilantik, Datuak Safar menjabat Wakil Ketua DPRD.

Rekor peraih suara terbanyak dalam Pemilu 2009, kembali dipegang Datuak Safar dalam Pemilu 2014. Waktu itu, Safar meraih 3.124 suara. Dia sukses mengantarkan Partai Golkar sebagai pemenang Pemilu. Sehingga, kursi Ketua DPRD diemban Datuak Safar dari 2014 sampai 2019.

Pada 2019, Datuak Safar maju sebagai calon DPRD Sumbar dari Dapil Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Meski tak lagi meraih suara terbanyak (karena rekor suara terbanyak untuk pemilihan DPRD Sumbar di dapil ini pada Pemilu 2019 dipegang Darman Sahladi), tapi Datuak Safar tetap terpilih.

Tapi, hanya setahun menjadi anggota DPRD Sumbar. Datuak Safar pada 2020 mengundurkan diri karena ikut berkompetisi dalam Pilkada. Datuak Safar digantikan Nela Abdika Zamri, politisi muda asal Kecamatan Akabiluru yang sampai kini masih bertahan di DPRD Sumbar.

Sekadar diketahui saja, Pilkada 2020 merupakan Pemilu ke-9 kali yang diikuti Datuak Safar sepanjang karier politiknya. Berpasangan dengan Rizki Kurniawan Nakasri atau RKN, Datuak Safar menang dalam pemilihan tersebut.

Datuak Safar-RKN yang diusung Partai Golkar, PPP, dan PKS, meraih 50.896 suara. Menang di Kecamatan Akabiluru, Payakumbuh, Harau, Mungka, Suliki, Gunuang Omeh, dan Bukitbarisan.

Sedangkan kompetitor terdekat mereka, Darman Sahladi-Maskar M Dt Pobo mendapatkan 43.338 suara. Pasangan yang diusung Partai Demokrat, PAN, dan Nasdem, serta didukung PDIP ini, unggul di Kapur IX, Luhak, dan Situjuah Limo Nagari.

Kemudian, pasangan Muhammad Rahmad-Asyirwan Yunus atau disingkat MR.AY meraih 42.707 suara. Pasangan yang diusung Partai Gerindra, PKB, dan Partai Hanura, serta didukung Partai Gelora dan PBB ini, unggul di Kecamatan Pangkalan dan Guguak.

Berikutnya, pasangan Ferizal Ridwan-Nurkhalis
meraih 25.198 suara. Pasangan yang maju dari jalur perseorangan atau independen ini hanya menang di Kecamatan Lareh Sago Halaban.

Dengan demikian, Pilkada 2020 menjadi saksi kemenangan Safar untuk kesembilan kalinya dalam Pemilu di Kabupaten Limapuluh Kota. Berkaca dari hasil Pilkada 2020 itu, rasanya tipis peluang Safar kalah dalam Pilkada 2024.

Walaupun Safar menjadi Bupati dalam momentum tidak tepat, karena sepanjang tahun 2021 sampai 2022, anggaran daerah terkuras penanganan Covid-19. Tapi di atas kertas, sulit mencari pesaing Safar dalam Pilkada 2024.

Apalagi, Datuak Safar berpasangan pula dengan Darman Sahladi yang tak hanya menjual tampang ganteng dan kerennya saja. Tapi juga berpengalaman di pemerintahan, karena pernah menjabat ketua dan anggota DPRD, baik kabupaten atau provinsi.

Dengan asumsi, Safar pernah meraih 50.896 suara dalam Pilkada 2020 dan Darman Sahladi memperoleh 43.338 suara pada saat yang sama. Banyak pihak, termasuk saya pribadi, yakin betul Safar-Darman akan memenangkan Pilkada 2024.

Apalagi, berdasarkan temuan survei Indikator Politik, lembaga survei yang kredibel dan bukan kaleng-kaleng, pasangan Safar-Darman pada kurun 11-16 November 2024, diperkirakan sudah unggul dengan 37,7 persen suara. Terpaut jauh dari tiga pasangan calon lainnya.

“Satu-satunya cara untuk membalikkan temuan survei ini adalah politik uang,” kata Darman Sahladi ketika saya bersama sejumlah politisi Golkar, PAN, dan Demokrat menemaninya berkampanye. Darman tentu saja sempat optimis dengan hasil temuan survei Indikator Politik.

Apalagi, dari temuan Indikator Politik yang diminta melakukan survei untuk kebutuhan internal oleh anggota DPR-RI dari Partai Demokrat, Ir. H. Mulyadi, pasangan Safar-Darman pada kurun 11-16 November itu, diperkirakan unggul di berbagai kecamatan. Kecuali di Akabiluru, Payakumbuh, Luhak, Situjuah Limo Nagari, Guguak, Mungka dan Bukit Barisan.

Akan tetapi, politik ternyata bukan rumus matematika. Walau diprediksi lembaga survei berpotensi menang dalam Pilkada Limapuluh Kota dan diprediksi unggul di Kecamatan Harau, Kapur IX, Pangkalan Koto Baru, plus Lareh Sago Halaban. Tapi, berdasarkan perhitungan sementara, perolehan suara Safar-Darman, masih belum signifikan. Diperkirakan, hanya unggul di Bukit Barisan, Kapur IX, dan Situjuah Limo Nagari.

*Ada Apa Pilkada Limapuluh Kota?*
Kondisi ini, membuat banyak orang terkejut dan bertanya-tanya, apa yang terjadi dalam Pilkada Limapuluh Kota? Kenapa pasangan Safar-Darman yang paling massif melakukan kampanye tatap muka dan paling banyak mengurus STTP Kampanye di kepolisian, justru belum memperoleh suara signikan dalam Pilkada 2024.

Padahal, Datuak Safar nyata-nyata adalah bupati incumbent. Sebagai petahana, Safar sudah pasti paling populer dari seluruh calon. Kemudian, sebagai politisi yang sudah 9 kali menang Pemilu, dan lebih dari 5 kali ikut sebagai tim pemenangan kontestan pemilu, Safar punya modal pengalaman dan modal sosial lebih dari cukup.

Akan tetapi, pengalaman dan modal sosial saja, ternyata sudah tidak bisa diandalkan lagi dalam Pilkada 2024. Segala aksi nyata untuk negeri dan kebaikan yang dilakukan, sekalipun hanya sebesar biji zarrah, rupanya tak lagi menjadi faktor utama bagi sebagian masyarakat dan pemilih kita.

Mungkin karena didesak berbagai kebutuhan hidup dan situasi ekonomi yang masih sulit pasca Pileg dan Pillpres lalu, sebagian besar pemilih menengah ke bawah, terindikasi goyah imannya karena janji honor saksi di luar TPS sebesar Rp300 ribu per kepala. Ada pula yang diduga luntur keyakinannya hanya karena paket sembako, kain sarung, dan rupiah bergambar Orang Utan.

Tentu saja, sebagian besar pemilih kita yang belum mengerti, bagaimana ribet dan puyengnya mengurus pemerintahan daerah. Bagaimana ruwetnya menata anggaran daerah, ataupun mengusulkan program dan kebijakan daerah, akan mudah termakan “umpan-umpan” yang ditebar tim sukses yang dibayar profesional setiap bulannya dan sesuai dengan tingkatannya.

Kondisi ini, satu sisi memang dilematis. Rakyat sedang butuh uang untuk beli beras makan malam. Rakyat sedang butuh biaya untuk membayar uang komite sekolah dan uang kuliah anak mereka. Kemudian, tim-tim sukses yang digaji setiap bulan, datang menemui mereka.

Tim-tim sukses itu tak hanya mengantarkan sembako. Tapi juga diduga menjanjikan rupiah selepas pemungutan suara. Maka, rakyat yang sudah jenuh dengan janji-janji politik di setiap Pemilu, memilih jalan pintas: terima uangnya dan coblos orangnya.

Adapun Safar-Darman, tak sanggup menandingi hal tersebut. Safar memang bupati incumbent, tapi uangnya tidaklah banyak-banyak amat. Darman memang pernah pengusaha. Tapi tak mungkin pula, ia habiskan uangnya untuk Pilkada.

Lagian, berapa benarlah gaji dan pendapatan kepala daerah atau wakil kepala daerah. Apalagi, di Limapuluh Kota, kabupaten yang hampir 99 persen pendapatan daerahnya, hanya mengandakan kucuran dari pemerintah pusat semua.

Selain tidak punya modal kapital yang cukup kuat, Safar-Darman tak mampu menyaingi aksi “beli suara” karena tidak ingin menciderai nilai-nilai demokrasi. Safar-Darman hanya mampu menyediakan kaos oblong, jilbab, dan gantungan kunci, sebagai souvenir dalam setiap kampanye mereka. Kalau ada biaya tambahan, hanyalah makan-minum.

Kalau pun ada relawan atau tim pemenangan yang dapat “aleh tapak” atau “uang lelah” untuk memasang alat peraga kampanye atau untuk berjaga-jaga, sehari-dua hari menjelang pemungutan suara, itu sudah pasti pula dilakukan paslon lain. Dan lumrah sebagai chost politic.

Hanya saja, chost politic yang dikeluarkan Safar-Darman, barangkali tidak sebanyak paslon lain. Sumbernya pun, dapat dipastikan, bukan semata dari saku Safar-Darman. Mungkin banyak juga bantuan dari orang-orang yang bersimpati. Untuk kepentingan orang banyak pula. Bukan untuk pribadi.

Safar-Darman juga tak mampu menjanjikan orang untuk berangkat ibadah umrah. Tak sanggup pula menjanjikan jalan-jalan dengan bus pariwisata setelah menang Pilkada. Bahkan, Safar-Darman tak mampu membayar penuh honor saksi TPS, saat pemungutan suara.

Safar-Darman berprinsip tidak akan membeli kemenangan dengan uang. Karena politik uang adalah sumber dari korupsi. Idealisme itu dipegang teguh sampai proses pemungutan suara dalam Pilkada Limapuluh Kota selesai digelar.

Saat ini, sedang dilakukan rekapitulasi penghitungan suara di setiap kecamatan. Dalam proses rekapitulasi, masih saja bersileweran kabar burung dan desas-desus dugaan politik uang.

Desas-desus politik uang itu bagaikan kentut dalam celana. Bau busuknya tercium ke mana-mana. Tapi sulit dibuktikan, pantat siapa yang mengeluarkan angin. Hanya harapan yang bisa dititipkan kepada penyelenggara pemilu. Bahwa indikasi politik uang dalam Pilkada tidak boleh dibiarkan tanpa proses penanganan serius.

Jika indikasi politik uang dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya tak hanya melunturkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilu. Tapi juga merusak sendi-sendi demokrasi. Bahkan, dari kini kita proklamirkan: siapa yang tak punya modal kapital cukup, akan sangat sulit berharap bisa menang, dalam pemilihan apapun, pada masa mendatang di Limapuluh Kota.

Sebab, rakyat yang barangkali tadi, sudah bosan dengan janji-janji politik, sudah capek dengan salam-salaman dan terima kasih melulu, butuh uang untuk beras makan malam dan biaya anak sekolah besok pagi. Mereka tak peduli lagi, mimpi politisi membangun jembatan, karena mereka tahu, tak ada sungai di atas jembatan itu.

Mereka, rakyat-rakyat kita yang polos dan tulus, sebagian telah kita nodai dengan cara-cara transaksional. Dampaknya, tentu bukan sekarang. Tapi jangka panjang. Pemilu berikutnya, banyak rakyat tak akan segan-segan bertanya: wani piro?

Tentu tak semua rakyat bakal begitu. Masih banyak orang-orang baik dan tulus yang menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan nilai-nilai demokrasi. Hanya saja, suara orang-orang baik ini, semakin lama, bisa semakin senyap. Akhirnya, kita hanya bisa berharap, takdir Tuhan membalikkan keadaan ini.

Dan pada akhirnya pula, kita harus percaya, dengan keterangan ayat suci. Bahwa, masa kejayaan dan kekalahan itu digilirkan di antara manusia. Supaya Tuhan mengetahui orang-orang yang beriman.

Kembali kepada Safar-Darman, malam selepas pemungutan suara, saya bersama politisi senior PAN, Marsanova Andesra dan Sekretaris Golkar Surya Chandra, menemui mereka di Payakumbuh. “Demokrasi kita, terindikasi dicederai politik uang,” kata Datuak Safar dengan mimik datar.

Suatu hal yang membuat saya kagum, gesture wajah Datuak Safar dan Darman, tetap seperti biasa. Tidak berubah dan tenang. Untuk ini, saya harus belajar banyak dari Datuak Safar.

Dan sampai hari ini, saya sungguh belum tahu, langkah politik apa yang akan dilakukan Safar-Darman ke depan. Yang saya tahu, Datuak Safar yang selalu menang, kini kalah karena uang. Tapi, Datuak Safar masih jadi bupati aktif, sampai Februari mendatang. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *