Scroll untuk baca artikel
Politik di Warung Kopi

Suara yang Tak Lagi Seirama

×

Suara yang Tak Lagi Seirama

Sebarkan artikel ini

Politik di Warung Kopi:
Rubrik opini Dekadepos yang menyajikan obrolan kritis, satir, dan reflektif ala Bang Dho dan kawan-kawan di warung kopi. Bisa bicara politik, kekuasaan, kebijakan publik, dan fenomena sosial. Disampaikan dengan bahasa rakyat, tanpa podium, tanpa kepentingan. Cukup secangkir kopi dan akal sehat.


Malam itu warung kopi lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada acara, tapi karena satu hal yang mulai terasa janggal, suara yang katanya satu, tapi makin lama makin terdengar tidak seirama.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Bang Dho duduk di sudut seperti biasa. Belum bicara, tapi sudah tahu arah obrolan.

“Bang,” kata Riko,
“ini sebenarnya masih satu suara… atau cuma kebetulan pakai nama yang sama?”

Bang Dho tersenyum tipis.

“Kalau sudah sampai orang bertanya begitu,” katanya pelan,
“biasanya yang berubah bukan suaranya… tapi kepentingannya.”

Iwan langsung menoleh.

“Maksudnya sudah tidak lagi untuk tujuan yang sama?”

Bang Dho mengaduk kopi perlahan.

“Organisasi itu dibangun untuk satu arah,” katanya.
“Tapi kadang di tengah jalan, arah itu dipakai masing-masing.”

Pemilik warung ikut duduk.

“Berarti bukan lagi soal beda pendapat, Bang?”

Bang Dho menggeleng.

“Kalau beda pendapat, masih sehat,” katanya.
“Yang mulai jadi masalah itu kalau suara dipakai untuk berdiri sendiri.”

Suasana mulai berat.

Riko menyandarkan badan.

“Yang satu bicara keras, yang lain menahan diri. Itu kenapa?”

Bang Dho tersenyum tipis.

“Karena tidak semua bicara untuk hal yang sama,” katanya.
“Ada yang bicara untuk organisasi… ada yang bicara untuk dirinya sendiri.”

Warung langsung hening beberapa detik.

Iwan menatap meja.

“Kalau begitu, organisasi masih punya arah, Bang?”

Bang Dho tidak langsung menjawab.

“Organisasi itu tidak hilang,” katanya pelan.
“Yang sering hilang itu rasa memiliki tujuan yang sama.”

Pemilik warung menghela napas.

“Berarti ini sudah masuk ke soal kepercayaan ya?”

Bang Dho mengangguk.

“Kalau suara sudah tidak seirama,” katanya,
“orang luar tidak lagi peduli siapa benar. Mereka hanya melihat… ini tidak lagi solid.”

Riko bertanya lagi.

“Kalau dibiarkan?”

Bang Dho berdiri perlahan.

“Yang rusak bukan cuma citra,” katanya.
“Tapi makna dari organisasi itu sendiri.”

Ia menepuk meja pelan.

“Organisasi bisa tetap ada namanya,” lanjutnya,
“tapi kalau suaranya dipakai masing-masing… lama-lama tinggal nama saja.”

Bang Dho melangkah keluar. Warung tetap ramai, tapi obrolan malam itu terasa lebih dalam dari biasanya.


Catatan Warung Kopi:

Ini bukan berita, bukan tuduhan, cuma obrolan yang lahir dari apa yang sedang ramai di luar sana.

Kalau ada yang merasa tersinggung, silakan diminum dulu kopinya. Kadang yang pahit bukan tulisannya… tapi kenyataannya.

Di warung kopi, tidak semua dibicarakan untuk menyebut. Tapi yang merasa disebut, biasanya sudah paham kenapa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *