LIRIK SISTEM CIAMIS DAN BANYUMAS
Sampah Akan Diolah Jadi Produk Bernilai di Limapuluh Kota
Banyumas, Dekadepos.id – Keseriusan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota dalam membenahi persoalan sampah terus ditunjukkan. Usai melakukan kunjungan ke Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Bupati Limapuluh Kota, H. Safni, melanjutkan agenda Study Tiru pengelolaan sampah modern ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Limapuluh Kota mencari sistem pengelolaan sampah yang efektif, modern, dan memiliki nilai ekonomi untuk diterapkan di daerah.

Dalam kunjungan itu, Bupati Safni didampingi Ketua TP PKK Limapuluh Kota, Asra Yanti Safni, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan dan Kawasan Permukiman Limapuluh Kota, Nopriyadi Syukri, ST. Kedatangan rombongan disambut langsung Bupati Banyumas periode 2025–2030, Sadewo Tri Lastiono.
Di Banyumas, rombongan mempelajari sistem pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir yang melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Sampah yang masuk ke TPS 3R maupun Pusat Daur Ulang dipilah sesuai jenisnya untuk kemudian diolah kembali menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pupuk organik, sedangkan sampah anorganik didaur ulang menjadi berbagai produk turunan. Bahkan, sampah bernilai rendah juga diolah menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF).
Selain itu, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) Banyumas juga mampu menghasilkan paving blok, genteng plastik, pupuk organik, hingga bahan bakar alternatif dari sampah.
Sistem tersebut dinilai berhasil karena hampir seluruh sampah dimanfaatkan kembali dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Bupati Safni menyebut, sistem Banyumas dan Ciamis memiliki keunggulan masing-masing dan sangat memungkinkan untuk diadopsi di Limapuluh Kota.
“Ciamis kuat dari sisi kesadaran masyarakat melalui bank sampah, sementara Banyumas sudah maju dengan teknologi pengolahan modern. Dua sistem ini sangat bagus jika dikombinasikan,” ujar Safni.
Menurutnya, arah pengelolaan sampah di Limapuluh Kota ke depan bukan lagi sekadar membuang sampah ke TPA, melainkan bagaimana sampah bisa selesai dari sumbernya dan memiliki nilai manfaat.
“Kita ingin nanti tidak ada lagi sampah yang menumpuk dan tersisa. Sampah harus bisa dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali,” katanya.

Ia menilai keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan alat dan teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir masyarakat.
Karena itu, Pemkab Limapuluh Kota akan mulai mendorong edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga, penguatan bank sampah di nagari, hingga kemungkinan pengembangan pengolahan berbasis RDF dan produk turunan lainnya.
“Ini bukan pekerjaan instan, tapi kita ingin mulai membangun sistem yang berkelanjutan. Sampah bukan lagi beban, tapi bisa menjadi sesuatu yang bernilai,” tutupnya. (rdo)















